Skip to content

Sirene di Gedung Enam Juta Gulden

27 Desember 2015

IMG-20151227-WA0001

GEDUNG berwarna putih itu berdiri kokoh. Bagian atapnya dihiasi ornamen ukiran kayu jati berumur hampir 100 tahun.
“Pengukir utamanya 150 orang yang didatangkan dari Tiongkok,” ujar Oki yang memandu saya keliling Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 24 Desember 2015 siang.

Dia menambahkan, para pengukir Tiongkok kemudian dibantu tenaga lokal dari Bandung dan sekitarnya. Pembangunan Gedung Sate berlangsung sepanjang 1920 hingga 1924. “Pembangunannya melibatkan 2.000 pekerja dan menghabiskan dana enam juta Gulden,” papar pria muda itu bersemangat.

Kuat dan utuhnya Gedung Sate hingga kini, seperti dikutip dari wikipedia, tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai. Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi bangunan Gedung Sate menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik.

Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 meter persegi (m2), luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m², dan teras menara 205,169 m².
Di puncaknya terdapat “tusuk sate” dengan enam buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden, yakni biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.

Kami berbincang di sela meninjau lantai lima gedung yang kini dipakai kantor gubernur Jawa Barat itu. Lantai paling atas bangunan ini hanya bisa dijangkau dengan menaiki tangga kayu dan sebagian tangga besi. Maklum, lift yang tersedia hanya sampai di lantai empat.

gedung sate lantai lima

Area di lantai paling atas Gedung Sate dikelilingi dengan kaca. Ada sejumlah kursi dan meja yang tertata dengan rapih. Sedangkan di balkon juga tersedia banyak kursi yang bentuknya lebih tinggi.

“Ruangan ini biasanya dipakai Gubernur untuk menjamu tamu istimewa,” kata dia lagi.

IMG-20151227-WA0000

Dari ruang teratas ini kita dapat memandang kota Bandung. Ibu kota Jawa Barat ini dikelilingi gunung. “Yang kelihatan sejajar itu Gunung Tangkuban perahu,” tambahnya seraya menunjuk ke arah luar.

Di bagian tengah ‘ruang istimewa’ itu terdapat sebuah sirene besar. Alat pengeras suara itu ditutup besi berwarna hijau. “Dulu suara sirenenya bisa terdengar hingga jarak 20 kilometer, sekarang hanya sekitar 2 kilometer,” jelas Oki.

gedung sate sirene

Maklum, saat ini posisi sirene dikelilingi kaca yang bisa jadi menghambat rambatan suara sirene. Soal kapan saja sirene dibunyikan, Oki menjelaskan, dalam kondisi normal saat ini hanya dibunyikan tiga kali dalam setahun.

Pertama, dibunyikan saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Kedua, saat dimulainya ibadah puasa Ramadhan. Dan, ketiga, saat awal tahun. “Setiap masuk tahun baru sirene ini dibunyikan,” tuturnya.

Ada yang mau tahun baruan di Bandung? (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 27 Desember 2015 00:35

    Setahun 3x bunyi… kesempatan langka tuh om

    http://singindo.com/2015/08/15/pernah-makan-mie-ayam-semangkok-rp-52-500-kalau-belum-datang-saja-ke-rm-linggar-jati/

    • 27 Desember 2015 00:37

      Kapan2 kalau ke Bandung, boleh mampir lah 🙂

      • 27 Desember 2015 00:37

        Iya om… menarik sekali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: