Skip to content

Dua Penunggang Moge Ini Patut Diacungi Jempol

16 Desember 2015

zebra cross dirampas

KARUT marut jalan raya Jakarta banyak membuat stress pengguna jalan. Ada yang akhirnya terprovokasi atau memprovokasi untuk ugal-ugalan.

Dalih mereka yang mempertontokan cara berkendara ugal-ugalan biasanya berujung pada kalimat, supaya tidak terlambat sampai tujuan. Untuk yang seperti ini, kadang muncul pertanyaannya, kalau takut tiba terlambat kenapa tidak berangkat lebih awal?

Tapi, ternyata masih ada penunggang sepeda motor yang tak mudah terprovokasi ketika berlalulintas jalan. Pemandangan itu sempat terlihat di salah satu sudut jalan kota Jakarta yang sesak dengan kendaraan bermotor. Pemandangan yang saya saksikan di dua waktu dan jalan yang berbeda itu patut diacungi jempol. Ceritanya begini.

Suatu siang di awal Desember 2015, saat menelusuri aspal pinggiran Jakarta menuju pusat kota, banyak kendaraan lalu lalang. Diantara banyaknya sepeda motor, tampak seorang penunggang kuda besi yang dengan santun berhenti di belakang garis setop. Saya persis di belakangnya. Sepeda motor warna hijau yang saya taksir berkapasitas mesin 250cc itu dengan tenang berhenti di belakang garis berwarna putih. Sedangkan di depannya belasan, bahkan puluhan sepeda motor berkubikasi lebih rendah dengan entengnya merangsek garis setop dan tentu saja mengangkangi zebra cross. Padahal, kita semua tahu zebra cross adalah hak pedestrian untuk menyeberang.

Ketika lampu berwarna hijau, kami melenggang. Sang pesepeda motor sport tadi sudah melaju di depan saya. Tunggu dulu, ketika kami menemui lampu merah berikutnya, sang pesepeda motor itu lagi-lagi berhenti di belakang garis setop. Dia tidak terprovokasi untuk melenggang merampas zebra cross apalagi menerobos lampu merah. Saya termasuk yang mengagumi konsistensinya menghargai aturan dan sudi berbagi ruas jalan.

Akhirnya kami berbeda arah. Dia mengarah ke sudut lain kota Jakarta. Dan, saya meneruskan perjalanan menuju kantor.

Dalam hari yang sama saya disuguhi pandangan nyaris serupa. Kali ini waktunya berbeda, yakni malam hari.

Di salah satu perempatan jalan, tampak sepeda motor sport berwarna orange. Saya taksir motor itu juga berkapasitas 250cc. Sang penunggang saya taksir usianya masih 30 tahunan. Dia berhenti di belakang garis setop dan tidak ikut pesepeda motor lainnya yang malam itu ramai-ramai menjarah lampu merah. Mereka menerobos lampu merah mungkin karena menganggap situasi jalan sudah sepi mengingat malam sudah memasuki hampir pukul 24.00 WIB.

Ada dua lampu merah lagi yang kami lalui nyaris bersamaan. Dan, lagi-lagi sang pengendara motor gede (moge) iu dengan santun berhenti ketika lampu berwarna merah. Dalam hati saya bergumam, masih ada pengguna jalan yang sudi berbagi. Semoga kian hari, tambah banyak pengguna jalan yang sudi mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. (edo rusyanto)

Iklan
13 Komentar leave one →
  1. 16 Desember 2015 15:23

    Mantap Pak, semoga virus santun berlalu lintas tersebut segera menyebar. Dan kita sebagai blogger, wajib memberi ajakan pada masyarakat. Monggo Pak, kalau berkenan mampir di blog saya, yang saya buat karena terinspirasi dari blog Bapak ini. Salam.

    • 16 Desember 2015 17:25

      amiiinnn. segera meluncur ke blog nya. terus semangattt menulis. salam.

      • 17 Desember 2015 08:01

        Terima kasih, sudah berkenan mampir. Keep on blogging!

        • 17 Desember 2015 09:44

          sama2, dan terus semangat berkarya.

    • 17 Desember 2015 09:37

      aamiin… kalau semua bikers santun tanpa memendang kubikasi mesin… adem hati ini…

      http://singindo.com/2015/12/17/dan-jokowi-pun-terbahak-bahak/

      • 17 Desember 2015 09:45

        amiiinnnnn

  2. 16 Desember 2015 15:30

    Patut ditiru nih..

    http://sebarkan.org/2015/12/16/pencopet-ini-keselek-cilok-saat-diciduk/

    • 16 Desember 2015 17:26

      setuju banget.

  3. Aa Ikhwan permalink
    16 Desember 2015 16:57

    biasanya ni mbah, kl yg numpaknya moge yg belakang gak ada atau minim yg klakson2 minta jalan uat nerobos :mrgreen: selain itu ramai klakson kecuali petugas yg disiplin lebih ada wibawa 😀 .

    • 16 Desember 2015 17:26

      semoga jalan raya kita kian humanis yah.

      • Aa Ikhwan permalink
        16 Desember 2015 17:28

        iya mbah

  4. 17 Desember 2015 06:58

    buat pelajaran bagi penunggang moge yang lain

  5. 17 Desember 2015 09:56

    disiplin dimulai dari kesadaran kita sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: