Skip to content

Selamatkan Anak-anak Kita dari Petaka Jalan Raya

14 Desember 2015

pnkj 2015 anak

BANYAK anak-anak kita yang bergelimpangan di jalan raya. Mereka bertumbangan akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Butuh perhatian serius untuk mengatasi hal itu terlebih dari pemerintah.

Karena itu ketika Budi, kolega saya di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengajak untuk bicara di puncak Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) 2015 saya langsung mengiyakan. Bukan apa-apa, karena kebetulan tema PNKJ kali ini adalah ‘Save Kids Live’. Selaras dengan perjuangan para pegiat keselamatan jalan untuk menyelamatkan anak-anak dari jagal jalan raya. Termasuk salah satu tujuan dari pergerakan kami di Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman).

Puncak PNKJ 2015 digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Selain dihadiri para petinggi Kemenhub, juga tampak hadir jajaran pejabat dari para pemangku kepentingan keselamatan jalan dari Korlantas Polri, Kementerian Kesehatan, dan tentu saja para pegiat keselamatan jalan seperti dari Kopdar Pengicau dan Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Acara puncak ini bahkan dihadiri oleh setidaknya 1.500 anak-anak dan remaja dari kalangan sekolah seantero Jakarta. Mereka berasal dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas.

“Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap ancaman kecelakaan lalu lintas karena itu semua pihak harus peduli dan berbuat,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perhubungan Sugihardjo yang hadir dalam acara itu mewakili Menteri Perhubungan Ignatius Jonan yang berhalangan hadir.

Sugihardjo bilang, data terakhir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan di seluruh dunia tercatat lebih dari 186.000 anak meninggal karena kecelakaan lalu lintas jalan. Di negara berkembang, jumlah anak-anak yang meninggal akibat kecelakaan tiga kali lebih banyak daripada di negara maju.
Oh ya, di Indonesia, menurut data Korlantas Polri, pada 2014 lebih dari 28.000 orang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Belum ada data yang menunjukkan berapa jumlah anak-anak di Indonesia meninggal karena kecelakaan lalu lintas, namun dari keseluruhan kejadian kecelakaan lalu lintas kurang lebih 15 % di antaranya melibatkan anak-anak. Memprihatinkan.

Kemenhub menyatakan, sebagai tindak lanjut dari gerakan Save Kids Live pihaknya telah melaksanakan beberapa langkah nyata terkait permasalahan keselamatan lalu lintas jalan bagi anak-anak di Indonesia. Program itu di antaranya Program ZoSS (Zona Selamat Sekolah), Program RASS (Rute Aman Selamat Sekolah), Penyusunan Aturan untuk Pembatasan Kecepatan, dan Pembentukan KMSK (Komunitas Masyarakat Sadar Keselamatan).

pnkj 2015 edo
Bagi saya, peran pemerintah harus lebih serius lagi dalam melindungi keselamatan anak-anak di jalan raya. Rakyat berharap, lewat peran aktif para pemangku kepentingan keselamatan jalan jumlah korban dari kalangan anak-anak semestinya dapat ditekan lebih signifikan. Peran Kemenhub tentu saja lewat hal yang amat signifikan, yakni mewujudkan transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan.

Kemenhub sebagai penentu kebijakan terkait transportasi publik seyogyanya berperan besar dalam hal itu. Selain, tentu saja bergandengan tangan dengan para pemerintah daerah yang menjadi penguasa wilayah.

Di kalangan masyarakat mencuat pandangan bahwa merebaknya anak-anak di bawah umur menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, lantaran angkutan umum massalnya tidak nyaman. Angkutan yang ada belum mampu mengakomodasi kebutuhan mobilitas anak-anak untuk pergi dan pulang dari sekolah. Jadilah penggunaan kendaraan pribadi sebagai pilihan favorit.

Masyarakat berjuang sendiri dengan mencari moda angkutan yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Negara semestinya hadir dan secara nyata menjawab tantangan yang ada itu. Bahkan, masyarakat berjuang sendiri dengan memberdayakan diri, mengedukasi diri agar terhindar dari petaka di jalan raya.

“Kami saling mengingatkan agar tidak naik motor kalau belum punya SIM dan kalau naik motor selalu pakai helm,” ujar seorang siswi SLTA saat berbincang dengan saya di sela PNKJ 2015.

anak di bawah umur berkendara
Dia mengaku, bersama teman-temannya di sekolah kerap melakukan sosialisasi tentang keselamatan jalan. “Kami sering sharing dan berharap para orang tua juga bisa mengingatkan anak-anaknya,” tambah siswi berhijab itu.

Ya. Selain pemerintah, peran orang tua menjadi amat penting sebagai garda terdepan soal keselamatan jalan. Orang tua diharapkan tidak permisif mengizinkan sang anaknya yang di bawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor. Apalagi, anak-anak tersebut belum memiliki SIM dan kestabilan mental dalam berkendara.

Lindungi anak-anak kita. Berikan hak hidup anak-anak kita untuk menggapai cita-citanya. Selamatkan generasi emas dari petaka jalan raya. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 14 Desember 2015 13:19

    siipp eventnya..

    http://sebarkan.org/2015/12/14/komik-17-apa-yang-akan-terjadi-saat-kita-membantu-orang-yang-tidak-kita-kenal/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: