Skip to content

Jangan Tabrak Kereta Api

7 Desember 2015

metro mini nabrak krl_vivacoid

LAGI, angkutan umum Metro Mini menabrak kereta di Jakarta. Mereka yang mendengar, melihat, atau membaca berita itu pun terkejut. Kesedihan dan rasa keprihatinan pun hadir di tengah-tengah kita. Duka anak negeri.

Berbagai media online menyebutkan, hingga Minggu, 6 Desember 2015, kecelakaan di perlintasan kereta Stasiun Angke, Jakarta Barat itu merenggut 18 korban jiwa. Selain itu, ada enam korban lainnya yang masih di rawat di rumah sakit. Termasuk yang menjadi korban meninggal dunia adalah sang sopir, Asmadi dan keneknya, Agus Muhamad.

Nyaris sulit ditemukan fakta bahwa masinis kereta api akan jadi pesakitan ketika terjadi kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api. Maklum, kereta api (KA) ataupun kereta rel listrik (KRL) harus didahuluku alias mendapat prioritas.

Lihat saja Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya di pasal 114. Dalam pasal ini ditegaskan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi wajib mendahulukan kereta. Pengemudi kendaraan bermotor maupun pejalan kaki wajib mentaati rambu atau isyarat yang ada di area itu.

Misal, ketika pintu palang di perlintasan kereta sudah tertutup, ya jangan nekat melintas. Maklum, ujung-ujungnya, jika akibat perilaku pelanggaran aturan tersebut menimbulkan kecelakaan dianggap bukan kecelakaan kereta api. Artinya, masuk kecelakaan lalu lintas jalan. Karena itu, jangan menabrak kereta.

Oh ya, soal bukan kecelakaan kereta api, lihat saja aturan yang termuat di dalam asal 110 Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Kereta Api. Aturan itu dengan tegas menyatakan bahwa pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. Lalu, pemakai jalan wajib mematuhi semua rambu-rambu jalan di perpotongan sebidang. Jika melanggar aturan itu dan menyebabkan kecelakaan, maka hal ini bukan merupakan kecelakaan perkeretaapian. Tuh kan.

Bila demikian, para pengguna jalan tak perlu tergesa-gesa apalagi menerobos pintu perlintasan kereta. Apalah daya kita para pengguna jalan ketika menghadapi rangkai ular besi yang beratnya berton-ton. Urusannya bisa runyam, ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga.
Nggak percaya?

Coba tengok sanksi yang ada di UU No 22/2009 tentang LLAJ. Aturan itu tertuang dengan jelas di Pasal 296. Ini bunyi selengkapnya “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor pada perlintasan antara kereta api dan Jalan yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Repot kan? (edo rusyanto)

inspirasi tulisan

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: