Lanjut ke konten

Keroncong Melemaskan Emosi Berkendara

5 Desember 2015

tol jkt cikampek des 15

JALUR tol Jakarta-Cikampek dipadati oleh kendaraan bermotor. Pagi itu untuk kendaraan dari Jakarta yang mengarah ke Bekasi mulai merasakan ketersendatan di kilometer (KM) 17. Arah sebaliknya ramai lancar.

Perjalanan kami sebenarnya tinggal 11 kilometer lagi. Tapi, kepadatan yang cenderung membuat kendaraan bergerak di bawah 5 kilometer per jam memaksa kami menempuh 11 kilometer dalam waktu nyaris satu jam. “Jalan tol Cikampek, apalagi yang ke Bekasi dan Cikarang sulit ditebak pak,” seloroh Zuhdi, kita sapa saja begitu, pengemudi yang mengantar kami dari Jakarta menuju ke Cikarang, Jawa Barat, Jumat, 4 Desember 2015 pagi.

Saya menduga-duga yang dimaksud dengan sulit ditebak oleh Zuhdi adalah tingkat kemacetannya yang kadang biasa saja, kadang menggila. Walau, kita para pengguna media sosial dimanjakan oleh berlimpahnya informasi sehingga dengan mudah bisa mengetahui kondisi jalur yang mau dilewati. Maklum, para pemangku kepentingan sudah familiar dengan media sosial seperti twitter untuk menginformasikan kondisi arus kendaraan di jalan tol.

“Kalau macet begini enaknya dengar lagu keroncong pak,” tiba-tiba suara sang pengemudi itu lagi.

Jadilah suasana di dalam mobil diisi dengan alunan suara musik keroncong yang mendayu-dayu. “Ini suara pak Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo pak,” jelas Zuhdi lagi ketika mengalun suara pria dengan diiringi irama keroncong.

Sebagian dari lagu itu membuat saya terlena juga sih. Maklum, ketika kecil, kakek saya sering memutar lagu keroncong ketika saya bertandang ke rumahnya. Irama musik khas Indonesia itu begitu merasuk ke memori saya yang masih lugu menikmati suara dari speaker yang ditaruh di ruang tamu. “Mau tahu nggak pak, lagu keroncong ini bisa membuat emosi saya menurun kalau sedang nyopir,” jelas Zuhdi.

Dia mengaku, sejak pensiun enam tahun lalu, sesekali menerima orderan mengantar tamu yang menyewa mobilnya. Perjalanan di dalam kota Jakarta atau di sekitar Jakarta kerap membuatnya pusing. Kemacetan lalu lintas jalan ada di mana-mana, belum lagi perilaku pengguna jalan yang tidak jarang mempertontonkan keliarannya. Sodok sana, sodok sini.

“Nah, supaya nggak emosi, saya mendengarkan lagu keroncong,” katanya.

Saya yang duduk disamping dia cuma manggut-manggut sambil mencoba mencerna apa yang dimaksud Zuhdi. Pria pensiunan pegawai negeri itu pun melanjutkan ceritanya.

“Tapi, kalau saya sedang dalam perjalanan di Pantura Jawa, saya mutar lagu lain pak, dangdut pantura, supaya nggak ngantuk,” sergah dia.

Musik, bagi Zuhdi menjadi teman setia dalam perjalanan khususnya ketika sedang mengemudi. Dia mengaku bisa meredam alias melemaskan emosi akibat karut marutnya lalu lintas jalan dengan mendengarkan keroncong. Tapi, dia bisa merasa ‘bugar’ ketika mendengarkan musik irama dangdut pop ketika melenggang di jalan yang lurus dan menjemukan.

Belum lagi selesai kami berbincang soal musik, tiba-tiba Zuhdi melipir ke sisi jalan tol. Antrean panjang yang ada di depannya membuat dia berpikir agak frontal, yakni berniat melintas di bahu jalan. Cukup kaget juga saya dibuatnya.

“Kenapa lewat bahu jalan pak? Memangnya tidak takut ditilang?” Tanya saya.

“Supaya nggak terlambat pak. Lagian kalau ada polisi kita balik lagi ke jalur tengah,” jawabnya enteng.

“Pernah ditilang gara-gara lewat bahu jalan pak?” Tanya saya lagi.

“Belum pernah,” jawabnya singkat.

Upaya mengajaknya tidak melibas bahu jalan tidak membuahkan hasil. Dia tenang saja melaju. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: