Lanjut ke konten

Jakarta Terus Kembangkan TOD

2 Desember 2015

jakartakuningan1

KIAN terbatasnya lahan yang tersedia dan tingginya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta, membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggencarkan pengembangan properti berbasis transit oriented development (TOD). Properti berbasis TOD merupakan pengembangan berbagai fungsi properti mulai hunian hingga komersial yang dibangun diantara moda transportasi.

Di Jakarta saat ini terdapat belasan juta kendaraan bermotor yang terdiri atas sepeda motor dan mobil. Di sisi lain, jumlah panjang jalan dianggap sudah tidak mampu mengakomodasi lagi mengingat pertumbuhan per tahunnya amat minim, yakni di bawah 1%. Tak heran jika setiap hari dengan mudah dilihat terjadinya kemacetan lalu lintas jalan di sana-sini.

“Tentu pemprov sangat mendukung dan mengajak kalangan pengembang untuk mengembangkan proyek berkonsep TOD di Jakarta. Syaratnya, konsep TOD harus dilakukan berskala kota dengan pengembangan  properti terpadu (mixed used development), revitalisasi kawasan, dan harus mengutamakan ruang-ruang publik yang nyaman,” kata Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta Gamal Sinurat, dalam sebuah seminar di Jakarta, baru-baru ini.

Walau demikian, katanya, hingga kini Pemprov DKI Jakarta belum memiliki aturan terkait pengembangan berbasis TOD. Oleh karenanya Gubernur DKI Jakarta berinisiatif mengeluarkan peraturan gubernur (pergub) sambil menunggu aturan tentang TOD.

DKI Jakarta sudah menyiapkan beberapa kawasan untuk dikembangkan sebagai kawasan TOD. Kawasan itu di antaranya Dukuh Atas, Manggarai, Harmoni, Senen, Grogol, dan Blok M. Pemprov juga menjamin kemudahan aturan zonasi bagi pengembang yang mau mengembangkan konsep TOD di proyeknya.

Konsep TOD di Jakarta sejalan dengan program pemerintah pusat yang menggenjot pembangunan sarana infrastruktur transportasi publik, mulai MRT, LRT, kereta, bandara, dan pelabuhan. Selain itu, juga didukung dengan pengembangan jalan tol maupun non-tol.

“Pengembangan kawasan TOD akan menciptakan suatu kawasan yang bernilai ekonomi tinggi. Biaya untuk mewujudkannya pasti mahal karena itu bisa skema pembiayaan bisa diatur dengan melibatkan swasta, subsidi silang, maupun program CSR,” kata Gamal. (edo rusyanto)

Sumber: Investor Daily

One Comment leave one →
  1. An_Syahri permalink
    2 Desember 2015 19:56

    Mantabs.. Semoga cepat terealisasi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: