Lanjut ke konten

Kisah Terkaparnya Perempuan Pemasar di Jalan Raya

1 Desember 2015

helm perempuan bocenger

KAMI menghabiskan rehat sore dengan segelas kopi dan beberapa kudapan. Perbincangan mengalir dengan sesekali diselingi canda tawa. Sore hari pun mengalir begitu saja.

“Kenapa sih orang masih nekat ngebut di jalan raya?” sergah Wina, kita sapa saja begitu, di tengah pembicaraan kami, di Jakarta, suatu sore pada penghujung November 2015.

Seorang kolega saya, Budiman, juga kita sapa saja demikian, menimpali. “Mungkin kebelet kali,” ujarnya enteng.

Kami berempat sempat tersenyum kecil mendengar jawaban Budiman. Tapi, satu kolega saya yang lain coba berargumen bahwa pesepeda motor kalau ngebut pasti ada yang ingin dikejar. “Bisa jadi karena dia pingin menjemput gebetannya,” kata dia.

Boleh jadi banyak alasan yang membuat orang memacu sepeda motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Ada yang beralasan karena terburu-buru untuk mengejar waktu ke tempat janjian. Atau, agar tidak terlambat untuk masuk kantor. Pokoknya, banyak deh alasannya.

“Tapi, yang paling repot kalau udah ngebut, eh nggak pake helm,” seloroh Budiman lagi.

Ya. Ironis memang kalau bersepeda motor tidak memakai helm. Risiko terlalu besar jika terjadi insiden, belum lagi di sisi lain bisa kena semprit.

“Gue punya pengalaman pahit soal helm,” tiba-tiba Wina berucap.

Perempuan pemasar di salah satu perusahaan swasta itu menceritakan pengalamannya. Sebelum melanjutkan ceritanya dia meneguk minuman ringan yang ada di depannya.

“Waktu itu kejadiannya siang hari. Gue naik motor sendirian dan nggak pake helm,” ujar perempuan berkacamata itu.

Ketika memasuki pertigaan jalan kampung yang tidak ada lampu pengatur lalu lintas jalan tiba-tiba dia dihajar mobil dari arah kiri jalan. Sontak, motornya terpental dan Wina terjerembab. “Gue udah nggak inget apa-apa lagi. Tahu-tahu udah di rumah sakit. Semua gelap,” ujarnya lirih.

Dia sempat tidak sadar selama tiga hari. Untuk pemulihan butuh waktu hampir sebulan dirawat di rumah sakit. “Kaki gue patah dan dipasang pen. Dan, ada tujuh jahitan di bagian kepala dan sebagian di wajah,” kata perempuan berusia tiga puluh tahunan tersebut.

Pengalaman getir itu, lanjutnya, mengubah dirinya dalam bersepeda motor. Dia kapok untuk naik motor tanpa helm. Dan, dia tak ingin pengalaman seperti itu dialami oleh siapapun. Cukup dirinya. “Kejadian itu waktu gue masih SMA, lagi senang-senangnya naik motor dan waktu itu belum punya SIM,” tuturnya.

Perbincangan kami menjadi sedikit serius dan prihatin atas pengalaman Wina. Saya jadi ingat bagaimana Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa helm bagi pesepeda motor bermanfaat untuk mengurangi risiko saat bersepeda motor. Memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Sore mulai bergeser memasuki malam. Kami berempat pun beranjak dari sudut kedai kopi. Kembali ke aktifitas masing-masing, sebagian lagi pamit undur untuk kembali ke rumah. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 2 Desember 2015 15:19

    Tingkat resiko kecelakak’an di jalan karena oleh penggunanya sendiri yang kurang sadar diri dan karena sering ugal-ugalan di jalan..
    Apakah ada peraturan yang memberikan sangsi karena bersikap ugal-ugalan di jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: