Skip to content

Begini Ganjaran Menerobos Perlintasan Kereta

30 November 2015

kereta api dan motor1

BERITA bus Trans Jakarta yang menabrak kereta rel listrik (KRL) menghiasi media massa baru-baru ini. Bagi saya, terdapat dua pembelajaran penting dari kasus yang menyebabkan beberapa orang terluka itu.

Pertama, kecelakaan di perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan ternyata masuk kategori kecelakaan lalu lintas jalan. Buktinya, dalam kasus bus yang terjadi pada Sabtu, 28 November 2015 itu sang pengemudi dijerat oleh Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Kita tahu, belakangan sang pengemudi, Atmajaka (44), ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya yang menangani kasus tersebut. Laman, viva.co.id menyebutkan, pengemudi bus TransJakarta yang menabrak Commuter Line di perlintasan Jalan Panjang, Jakarta Barat itu pasal 283 UU No 22/2009 tentang LLAJ. Bahkan, belakangan disebutkan bahwa sanksinya bakal merujuk pada pasal 283 Juncto Pasal 296 Juncto Pasal 310 ayat (1) dan (2) UU No 22/2009 tentang LLAJ.

Pelajaran yang kedua adalah, berponsel sambil mengemudi berisiko tinggi. Kita semua tahu bahwa berponsel dapat merusak konsentrasi sang pengemudi. “Bus sebenarnya berhenti, tetapi bus perlahan maju sebelum waktunya, karena ditenggarai supir menggunakan HP saat mengemudi. Akibatnya, bus maju sedikit dan tersambar bagian depan kiri oleh kereta yang datang dari arah kiri bus,” kata Direktur Trans Jakarta, Antonius Kosasih seperti dilansir laman viva.vo.id.

Ironisnya, selain bakal diganjar hukum pidana UU No 22/2009 tentang LLAJ, sang pengemudi juga bakal kena sanksi dari tempatnya bekerja. Kosasih mengatakan, bisa jadi sang pengemudi dikenai sanksi seperti denda dan sanksi administratif lainnya. Sanksi juga bakal merembet kepada perusahaan tempat sang pengemudi bekerja. Ironis.

Aturan di Perlintasan

Tahukah kita bahwa negara mengatur soal bagaimana para pengguna jalan ketika mendekati atau berada di perlintasan sebidang kereta api dengan jalan?

Lihat saja aturan yang tertuang dalam pasal 114 UU No 22/2009 tentang LLAJ. Disana disebutkan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib:

a. berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain;
b. mendahulukan kereta api; dan
c. memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel.

Bagaimana jika pengendara melanggar aturan itu? Silakan lihat di pasal 296 UU yang sama.

Dalam pasal itu ditegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Dalam kasus bus Trans Jakarta di atas cerita menjadi lain karena ada aspek berponsel sambil mengemudi dan menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan korban luka-luka serta barang yang rusak. Kalau untuk hal ini bisa jadi bakal merembet ke sanksi yang lain.

Untuk berponsel sambil mengemudi ada sanksi seperti tertuang di dalam pasal 283. Aturan ini mengaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Lalu, ketika menyebabkan kecelakaan bisa dibidik dengan pasal 310. untuk yang menyebabkan korban luka ringan bisa saja dikenai ayat 1 dan ayat 2. Dalam ayat 1 dikatakan setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan kerusakan kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama enam bulan dan/atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Dan, pada ayat 2 ditegaskan setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama satu tahun dan/atau denda paling banyak Rp 2 juta.

Orang sabar disayang Tuhan. Kalimat itu menjadi relevan ketika kita berlalu lintas jalan. Terlebih, ketika ada di perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: