Skip to content

Seorang Nenek Berani Menghardik Penyerobot Motornya

28 November 2015

helm pemotor madura1

BAYANGKAN jika Anda diserobot pengguna jalan ketika melaju di jalur yang benar. Marah? Kesal? Atau sewot hingga melabrak sang penyerobot?

“Kalau saya nggak bisa membiarkan orang yang menyerobot seenaknya, apalagi membahayakan kita,” ujar Indah, kita sebut saja demikian, ketika berbincang dengan saya, di Jakarta, belum lama ini.

Perempuan dengan satu cucu ini bercerita, suatu ketika dia hendak berbelok ke kiri jalan. Lampu sein, yakni lampu isyarat untuk berpindah lajur atau berbelok, sudah dia nyalakan. Tiba-tiba, katanya, muncul sepeda motor lain yang main serobot saja. Nyaris terjadi insiden antara sepeda motor skutik yan dikendarainya dengan sang pria penyerobot tersebut.

“Saya marah karena hal itu bisa membahayakan diri saya dan tentu juga diri sang penyerobot, Saya teriakin dan tegur dia, untungnya dia terima dan ngaku salah,” tegas perempuan berusia hampir lima puluh tahun itu.

Bagi Indah, perilaku seperti itu tidak bisa didiamkan begitu saja. Perlu ada shock therapy agar para pelaku pelanggaran aturan lalu lintas jalan dapat mengubah perilakunya. Keselamatan dan kenyamanan berlalu lintas jalan menjadi prioritas.

Oh ya, perempuan yang menjadi korban kecelakaan di Jakarta dan sekitarnya justeru menurun. Pada 2014, setiap hari ada lima perempuan yang menjadi korban. Angka itu setara dengan sekitar 22,43% dari total korban kecelakaan. Tapi, perempuan sebagai pelaku kecelakaan justeru meningkat. Bila pada 2013 baru sekitar 4% dari total pelaku kecelakaan, setahun kemudian naik menjadi sekitar 7%.

Kembali soal perilaku ugal-ugalan di jalan. Para penyerobot atau pelanggar aturan di jalan bisa jadi bukan karena tidak tahu aturan. Mereka melakukan hal itu amat mungkin karena merasa belum dirugikan atas perilakunya itu. Bahasa gampangnya, orang belum kapok kalau belum merasakan pahitnya melanggar aturan.

Misal, belum pernah didenda maksimal Rp 500 ribu atas perilaku melanggar marka dan rambu jalan. Atau, mencicipi petaka jalan atas pelanggaran aturan menerobos lampu merah. Tapi, apa iya mesti celaka dulu barulah mengubah perilaku? (edo rusyanto)

Iklan
5 Komentar leave one →
  1. 28 November 2015 14:54

    iya om kadang ane juga ngiri kenapa orang melanggar itu kok gak kena apesnya. padahal kita taat aja ngeri juga kalau jadi korban

    • 28 November 2015 15:07

      semoga suatu ketika dia mengubah perilakunya.

  2. 29 November 2015 10:36

    Memang perempuan relatif lebih banyak ga paham safety..
    Asal bisa jalan itu motor, udah.. Berani bawa..
    Ga heran lg kl perempuan bawa motor posisi dikanan.. Tau2 potong kiri masuk gang, atau sein kiri, jalannya ditengah..
    Eh, tapi melulu perempuan.. Bapak2 juga lumayan banyak.. Yg jalan pelan ditengah, atau keluar dari gang main nyelonong aja.
    Kl ABG ya gitu lah..rahasia umum, namanya baru kenal motor.. Jalan seruntulan.

    Perlu edukasi lagi nih Om..
    Agar makin banyak yg aware sama safety.
    🙂

    • 29 November 2015 17:02

      masih banyak pekerjaan rumah kita untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis.

      • 29 November 2015 18:20

        Iya…
        Langkah awal yg pas.. Keknya.. Dimulai dari edukasi.. Dilarang membawa kendaraan dijalan raya bagi anak yg belum cukup umur & memiliki SIM.
        Tapi disaat yg bersama.. Boleh sih di isi acara penyuluhan safety riding disekolah-sekolah.

        Contoh Om Leo 7leopold7.com ,
        Anaknya sudah bisa bawa motor namun dilarang berkendara di jalan umum.

        Blogger jempolan, mencontohkan yang baik.
        😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: