Skip to content

Mengenal Lebih Dekat Sosok Penguji SIM

26 November 2015

sim keliling

DI lingkungan saya kerap mencuat pembahasan soal susahnya mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Maksudnya, untuk lolos ujian hingga akhirnya mendapat SIM butuh beberapa kali tes atau mengikuti ujian.

“Saya sampai empat kali tes dan ujian baru bisa dapat SIM C untuk motor,” ujar seorang kolega saya, di Jakarta, suatu ketika.

Hal itu amat masuk akal karena peserta ujian SIM nyaris tidak pernah mempelajari materi yang diujikan. Banyak diantara kita yang tidak memahami aturan lalu lintas jalan yang berlaku. Bahkan, untuk pengetahuan tentang jenis dan makna rambu saja boleh jadi hanya sedikit yang tahu secara persis.

Di tengah itu semua, tiba-tiba sang calon penerima SIM harus mengikuti ujian. Ibarat bertempur, belum pernah latihan langsung perang. Praktis bisa kalang kabut.

Lantas, seperti apakah sosok sang penguji SIM?

Menurut Kombes Polisi Chrysnanda Dwilaksana, penguji SIM adalah petugas kepolisian atau pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja pada kepolisian, khususnya di bidang pengujian SIM. Nah, para penguji itu wajib memiliki kompetensi yang sudah disertifikasi. Artinya, kompetensi mereka diakui dan teruji.

Kompetensi itu mencakup beragam bidang, yaitu;

Pertama, pengetahuan tentang;

a). Hukum/perundang-undangan yang berkaitan dengan lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ), yakni terkait kamseltibcarlantas.

b). Kendaraan bermotor dan cara mengendarai di jalan raya; pengetahuan tentang kendaraan bermotor, ketrampilan tentang teknik kendaraan bermotor, teknik mengendarai kendaraan bermotor tingkat : safety, defensive, bahkan speed drive.

c). Etika berlalu lintas
Berlalu lintas memerlukan kesadaran moral untk mendukung terwujud dan terpeliharanyanya keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Karena lalu lintas sebagai urat nadi kehidupan, cermin budaya bangsa dan cermin tingkat modernitas suatu bangsa.

d). Tanggung jawab kepada publik

Kedua, memiliki ketrampilan mengendarai kendaraan bermotor seperti roda dua, roda empat, atau lebih. Ketrampilan itu baik untuk safety driving/riding, defensive drivng/riding, dan speed driving yang terkualifikasikan sebagai instruktur dan penguji.

Ketiga, menguasai teknik pengujian teori, simulasi dan praktek : teori, simulator, praktik maupun di ruang kesadaran.

Keempat, memahami dan mampu menganalisis akan sikap dan sifat peserta uji SIM pada saat di ruang kesadaran. Ruang kesadaran ini sebagai ruang pemantauan atas kesadaran para peserta uji SIM sebelum dan sesudah mengikuti uji SIM.

Apa yang dipaparkan oleh mantan Dirlantas Polda Metro Jaya itu terlihat bahwa para penguji SIM mesti menguasai pengetahuan yang komplet. Artinya, bila mekanisme pengujian berjalan sesuai protap yang ada, diharapkan warga yang mendapat SIM adalah benar-benar berkompeten.

“SIM adalah bentuk legitimasi kompetensi yang menunjukan adanya previlage/hak istimewa yang diberikan oleh negara kepada seseorang yang telah lulus uji baik administrasi, teori, simulasi, dan praktik,” tegas Chrysnanda.

Dia menambahkan, pemilik SIM dianggap telah memiliki sejumlah pengetahuan, yaitu tentang hukum/aturan/ peraturan/perundang-undangan, kemanusiaan, dan teknis dasar kendaraan bermotor. Selain itu, memiliki ketrampilan mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya serta memiliki kepekaan dankepedulian akan keselamatan baik bagi dirinya maupun orang lain. “Oleh sebab itu untk memperoleh SIM wajib diuji,” tegasnya.

Siap komandan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: