Skip to content

Pelaku Kecelakaan = ‘Penjahat’ Jalanan?

24 November 2015

laka berita koran1

KECELAKAAN lalu lintas jalan masih menjadi catatan hitam Indonesia. Sepanjang 2015 setidaknya setiap hari 70-an jiwa melayang sia-sia di jalan raya. Korban yang bergelimpangan tersebut buah getir dari 250-an kasus kecelakaan yang terjadi setiap hari di seantero Nusantara.

Kondisi di dunia tidak jauh berbeda. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan Global Road Safety 2015 menyatakan bahwa 1,25 juta jiwa tewas akibat kecelakaan setiap tahun. Tiga kelompok yang rentan kecelakaan adalah sebanyak 23% pesepeda motor, pejalan kaki (22%), dan pesepeda kayuh (6%) atau sekitar 49% dari total korban kecelakaan dunia. WHO telah menginisiasi  program pengurangan kematian dan korban luka akibat lalu lintas jalan sebesar 50% pada 2020. Salah satu upaya masyarakat global adalah lewat Dekade Aksi Keselamatan Jalan 2011-2020.

Melihat kondisi tersebut Road Safety Association (RSA) Indonesia dan Koalisi Pejalan Kaki (KPK) meminta Negara lebih serius menangani masalah kecelakaan. Di sisi lain, kedua kelompok masyarakat itu mengajak publik untuk lebih sadar untuk berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

“Perhatian pemerintah terhadap keselamatan jalan kami rasakan masih timpang dibandingkan dengan kasus lain seperti penyalahgunaan narkoba dan terorisme. Untuk dua kasus tersebut, pemerintah sangat sigap bahkan membentuk badan nasional yang khusus menangani kasus tersebut, mengapa dengan keselamatan jalan tidak dilakukan hal yang sama?,” tutur Ivan Virnanda, ketua Umum RSA Indonesia, di Jakarta, Selasa (24/11).

RSA Indonesia dan KPK meminta Kepolisian RI menegakkan hukum dengan lebih tegas, konsisten, transparan, kredibel, dan tidak pandang bulu. Lalu, pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman, selamat, terjangkau secara akses dan finansial. Sementara masyarakat diminta untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku, memiliki keterampilan berkendara yang mencukupi dan sudi berbagi ruas jalan dan menghargai sesama pengguna jalan.

Sementara itu, terkait dengan Hari Perenungan Korban Kecelakaan Dunia (World Day of Remembrance for Road Traffic Victims) RSA Indonesia dan KPK menggelar aksi bersama pada ajang Car Free Day, di Jakarta, Minggu (22/11). Dalam ajang bersama itu diserukan agar pengguna jalan lebih waspada saat berlalu lintas jalan dan membuka mata negara untuk lebih serius.

Di sisi lain, kata Ivan, pelaku kecelakaan lalu lintas adalah penjahat jalanan. Kecelakaan lalu lintas merupakan tindak kriminal apalagi jika menyebabkan hilangnya nyawa. “Sanksi penjara dan administratif telah menunggu sang pelaku,” katanya.

Ajang World Day of Remembrance for Road (WDOR) diinisiasi European Federation of Road Traffic Victims (FEVR) pada tahun 1995. Hal itu lantas bergulir menjadi program internasional yang diperingati setiap tahunnya setelah diadopsi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa pada 26 Oktober 2015. RSA Indonesia sebagai jaringan aliansi LSM Keselamatan Jalan Dunia merasa patut menyuarakannya di Indonesia. Tema WDOR tahun ini yang diperingati pada 15 November 2015 adalah “It’s time to Remember – Say No to Road Crime.’ (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: