Skip to content

Mulianya Janji Dua Ibu di Bandung

22 November 2015

pelajar tak helm

UNTUK sebagian orang persoalan ini mungkin dianggap sepele. Tapi, bagi ibu muda yang satu ini ceritanya menjadi lain. Dia punya sudut pandang yang berbeda.

“Pokoknya, sepulang dari sini saya berjanji tidak lagi mengizinkan anak saya ke sekolah bawa motor sendiri,” ujar Leila, ibu muda berhijab di Bandung, Sabtu, 21 November 2015 siang.

Hari itu Leila hadir dalam “Seminar Orang Tua” yang digelar Save The Children di SMPN 14 Banung. Seminar itu mengupas masalah keselamatan jalan khususnya terkait pesepeda motor. Dia hadir bersama seratusan orang tua lainnya. Mereka adalah para orang tua yang anak-anaknya bersekolah di tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

“Saya banyak mendapat pencerahan dari seminar ini. Saya melarang karena sayang. Saya tidak ingin kehilangan anak saya,” ujarnya.

Dalam seminar itu saya beberkan bagaimana berisikonya anak di bawah umur ketika mengendarai sepeda motor. Data Korlantas Polri memperlihatkan bahwa dalam rentang lima tahun terakhir, 2011-2015, setiap hari sekitar 86 anak-anak menjadi korban kecelakaan di jalan. Bahkan, mereka yang menjadi pelaku kecelakaan rata-rata 18 orang per hari. Angka itu bukan main-main. Mencerminkan bagaimana permisifnya orang tua mengizinkan anak di bawah umur berkendara.

Setidaknya ada sembilan alasan orang tua mengizinkan anaknya berkendara. Kesembilan alasan itu mencakup Pertama, orang tua permisif. Maksudnya, orang tua memaklumi bahwa apa yang dilakukannya adalah demi kepentingan sang anak.

Kedua, anak dianggap bisa berkendara. Padahal, bisa berkendara belum tentu mampu mengelola emosi dengan kejiwaan yang masih belum stabil.

Ketiga, jarak dekat. Ada asumsi bahwa jarak dekat, yakni dari rumah ke sekolah, atau berkendara di sekitar pemukiman dianggap aman bagi sang anak.

Keempat, lebih hemat. Alasan ekonomi banyak ditemui dengan dalih jika menggunakan angkutan umum biayanya lebih tinggi ketimbang menggunakan sepeda motor.

Kelima, angkutan umum massal belum aman, nyaman, tepat waktu, dan terjangkau. Melihat kondisi mayoritas angkutan umum yang dianggap demikian membuat orang tua membolehkan anaknya menggunakan kendaraan pribadi.

Keenam, tidak ditilang. Ada pemikiran bahwa selama ini saat berkendara sang anak tidak pernah ditilang sehingga merasa aman-aman saja berkendara.

Ketujuh, masalah sosial. Ada pemikiran jika menggunakan angkutan umum, selain soal waktu, juga ada masalah sosial lain seperti masalah tawuran pelajar dan potensi tindakan kriminal.
Kedelapan, lebih praktis. Kendaraan pribadi dianggap lebih praktis, selain mangkus dan sangkil dibandingkan angkutan umum.

edo di stc bandung nov 2015

Kesembilan, memiliki kendaraan pribadi. Umumnya, keluarga yang memiliki kendaraan pribadilah yang mengizinkan sang anak berkendara.

Merusak Hak Anak

Menurut Brian Sripahastuti, senior manager West Java Save the Children, kecelakaan bisa menghambat hak hidup anak untuk berkembang secara optimal. Pihaknya melihat bahwa kecelakaan adalah masalah kesehatan dan merusak hak anak untuk bertahan hidup. Perlu peningkatan pengetahuan di kalangan orang tua. Serta perlu peningkatan perlindungan pada anak-anak. “Karena itu STC bikin program Selamat yang disokong STC Jepang dan perusahaan Jepang, Sompo Holdings,” katanya di tempat yang sama.

Bagi Lia, kita sapa saja begitu, cara mengkomunikasikan yang tepat soal keselamatan jalan menjadi penting dalam dialog dengan anak. Peserta seminar yang satu ini menceritakan pengalamannya diantar sang anak yang masih kelas delapan. Ketika itu dirinya minta diantar sang anak untuk beranjangsana di sekitar kompleks perumahan tempat tinggal mereka. Namun, sepulang dari mengantar dirinya sang anak jadi murung. Belakangan dia tahu bahwa sang anak bertemu gurunya dan ditegur.

Bahkan, lanjutnya, sang anak tak mau lagi mengantar dirinya naik sepeda motor. “Setelah ikut seminar ini saya janji tidak akan minta diantar lagi. Saya tidak ingin terjadi apa-apa kepada anak saya,” katanya.

Praktisi pendidikan anak, Anna, menyarankan agar orang tua membuka komunikasi yang tepat kepada anak-anak di bawah umur. Memberi perhatian yang cukup dan menempatkan dialog sebagai upaya menjelaskan soal risiko bersepeda bagi anak-anak di bawah umur akan lebih mudah diterima oleh anak-anak.

“Jangan menyalahkan anak dan membanding-bandingkan dengan yang lainnya,” saran dia dalam seminar.
(edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 22 November 2015 15:14

    Benar. Saat ini saya lihat bahwa banyak anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor dengan bebas. Bahkan, mereka sering membonceng teman-temannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Peran orang tua harus lebih diupayakan dalam hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: