Lanjut ke konten

Mata Elang Sang Sopir Travel

21 November 2015

tol purbaleunyi nov 15

MATA pria itu sibuk melihat kaca spion kanan dan kiri. Tangannya cekatan mengendalikan kemudi. Sesekali dia mengunyah kudapan sejenis biskuit yang ditaruhnya di atas dashboard mobil.

“Kita harus punya mata elang, kalau nggak bisa apes,” tiba-tiba pria muda itu berseloroh, Jumat, 20 November 2015 sore.

Mata elang adalah istilah untuk melihat dengan tajam atau jeli. Elang adalah jenis burung yang bisa dengan jitu melihat mangsanya dari ketinggian. Dia terbang berputar di angkasa lalu tiba-tiba bisa dengan jitu menerkam unggas yang ada di daratan. Hap!!!

Pria muda pengemudi mobil travel jurusan Jakart-Bandung itu memakai sebutan mata elang untuk melihat pergerakan mobil patroli jalan raya (PJR). Mobil patroli mengawasi pengguna jalan tol. “Tadi kelihatan dan sekarang ada di belakang truk yang ada di belakang kita,” kata dia.

Pengemudi itu memindahkan posisi kendaraannya dari lajur kanan ke tengah. Bagian kanan diperuntukan bagi kendaraan yang hendak mendahului. Atau, mereka yang melaju dengan kecepatan tinggi. Di jalan tol, batas kecepatan maksimal yang diizinkan adalah 100 kilometer per jam (kpj).

“Kalau kita tetap di kanan bisa kena tilang,” tambah pria yang mengaku pernah menjadi sopir taksi itu.

Saat itu di speedometer mobil saya lihat jarum menunjuk ke angka 80. Di depan mobil travel ada beberapa kendaraan lain, begitu juga di belakangnya.

Adegan belum selesai. Saat memasuki kepadatan arus kendaraan, sang pengemudi memasukan mobilnya ke bahu jalan. Memang dia tidak sendirian. Di bahu jalan mobil lebih mengalir.

“Nggak takut ditilang pak lewat bahu jalan,” tanya saya ketika mobil melambat dalam antrean gerbang tol Cikarang Utama.

Dia menoleh, mungkin pertanyaan tadi mengusiknya.

“Kalau nggak ada patroli nggak apa-apa. Daripada macet,” selorohnya enteng.

“Belum pernah kena tilang?” Tanya saya lagi.

“Belum pernah pak. Tapi, ada beberapa kawan saya yang pernah kena tilang,” ujarnya.

Dia menambahhkan, mereka yang kena tilang tadi harus merogoh kocek Rp 200 ribu. Uang itu sebagai denda yang dibayarkan di pengadilan. “Ada yang sidang di pengadilan Purwakarta, ada juga yang di Jakarta Timur,” tukasnya.

Mobil travel berbahan bakar solar itu terus melaju menelusuri jalan tol Jakarrta-Cikampek. Lalu, kami masuk ke tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi). Sempat berhenti sekali di KM 88 untuk mobil mengisi BBM dan sejumlah penumpang istirahat ke kamar kecil.

Entah karena pertanyaan tadi atau bukan sepanjang tol Purbaleunyi hingga keluar di gerbang tol Pasteur, Bandung mobil tidak melibas bahu jalan. Saya cuma bergumam dalam hati, “Semoga semua pengendara memahami di jalan raya semua ada porsinya.” (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 21 November 2015 20:35

    Biasanya moda transportasi itu pada punya “pelindung” Om Edo…
    Kalo ada apa-apa dijalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: