Lanjut ke konten

Produsen Keluhkan Lambannya Pertumbuhan Jalan

18 November 2015

jalan di indonesia 2015

PAGI baru menyeruak. Mobil yang membawa kami merangkak sepanjang jalan tol Cibubur, Jakarta Timur menuju Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Lalu lintas jalan padat. Jalan raya diisi beragam jenis mobil, mulai yang kelas seratusan juta rupiah sampai yang miliaran rupiah per unit.

Pagi itu, Rabu, 18 November 2015 kami berangkat dari Cibubur menuju Bekasi. Jalur yang dipilih, jalan tol Jagorawi, tol JORR, dan masuk ke tol Jakarta-Cikampek. Jarak tempuh tak lebih dari 30 kilometer, tapi jangan kaget, pagi itu butuh waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Dahsyat kan?

Tapi, kami tak sendirian. Ada rombongan teman yang menempuh jarak sekitar 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Pada hari yang sama.

Ada yang mengeluh jalanan macet. Walau, yang dimaksud sebenarnya lalu lintas jalan yang macet. Lalu berujar bahwa jumlah kendaraan tidak sebanding dengan jumlah panjang jalan. Kalau dipikir-pikir ada benarnya. Itu di jalan tol.
Coba tengok di jalan arteri. Jumlah kendaraan bermotor tumpah ruah tak tertampung badan jalan. Bahkan, sepeda motor sampai meluber ke trotoar jalan.

“Jumlah sepeda motor terus bertambah, sedangkan jumlah jalan pertumbuhannya amat lambat,” tutur Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor (Aisi), saat berbincang di sebuah diskusi, di Jakarta, baru-baru ini.

motor proyeksi 2015 2020

Dia menjelaskan, saat ini jumlah sepeda motor sekitar 80 jutaan unit. “Itu kalau mengutip data Korlantas Polri. Walau, data itu masih ada yang patut dipertanyakan,” selorohnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Hediyanto W Husaini, mengatakan, jaringan jalan di Indonesia hanya sekitar 488 ribuan kilometer (km). Dari jumlah jalan tersebut mayoritas adalah jalan kabupaten/kota, yakni 392 ribuan km.

Terpenting, kata Kasubdit Lingkungan dan Keselamatan Dit Pengembangan Jaringan Jalan Ditjen Bina Marga, Kementerian PUPR, Subaiha Kipli, pihaknya berupaya menyediakan jalan berkeselamatan. “Peran kami ada proaktif dan reaktif, agar pengguna jalan tetap nyaman dan selamat,” katanya di Jakarta, belum lama ini. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. 18 November 2015 21:57

    Menurut saya pengurangan kendaraan pun perlu dipertimbangkan, penambahan sarana angkutan publik dan pemerataan akses transportasi juga perlu ditingkatkan, macet hanya ditemui di kota besar di indonesia, namun di lain sisi masih banyak wilayah indonesia yg tidak terjangkau transportasi umum

  2. aganwidodo permalink
    19 November 2015 15:32

    bukan maksud menyalahkan pemerintah, tapi sekedar ingin bertanya, setiap unit kendaraan bukankah ada pajaknya, terus pajak itu lari kemana? Dan mengenai angkutan massal, apakah pemerintah tidak bisa bikin angkutan massal yg aman, nyaman, tepat waktu? Tidak mau apa tidak mampu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: