Skip to content

Mulai Intel Cantik, Kardus Bekas, Hingga Ondel-ondel

14 November 2015

IMG-20151114-WA0013

BILA Anda ingin mengekspresikan diri di ruang publik, kini ada tiga pilihan tempat yang diizinkan di Jakarta. Ketiganya mencakup, kawasan Parkir Timur Senayan, (Jakarta Selatan), kawasan Silang Monas (Jakarta Pusat), dan kawasan DPR RI (Jakarta Selatan).

“Aksi simpatik kita kali ini terpaksa digeser dari Pancoran ke kawasan Monas,” papar bro Syaiful, ketua Kopdar Pengicau (Kopcau), saat berbincang dengan saya, Jumat, 13 November 2015 malam di bilangan Jakarta Selatan.

Dia bercerita, ngurus izin atau persisnya pemberitahuan aksi kepada pihak Polda Metro Jaya tidak sulit. Kita cukup membawa surat tentang rencana kegiatan aksi yang akan dilakukan. Lalu, pihak kepolisian akan mencatat dan memberikan tanda bahwa aksi atau kegiatan tersebut sudah terdata. “Waktu ngurus surat itu saya malah ketemu intel cantik. Wah ternyata sudah temanan di media sosial path ketemu juga di darat. Orangnya cantik dan enak cara bicaranya,” seloroh bro Syaiful sambil tersipu.

Malam itu kami memfinalisasi aksi simpatik kampanye keselamatan jalan terkait Hari Perenungan bagi Korban Kecelakaan Sedunia (World Day of Remembrance for Road Traffic Victim). Kami membahas apa-apa saja yang perlu disiapkan untuk aksi keeseokan harinya. Maklum, aksi yang dipersiapkan selama empat hari ini sungguh-sungguh berbasis swadaya.

“Saya menyiapkan print-print-an (cetakan) kertas untuk bahan poster pesan keselamatan jalan yah,” ujar Eko, humas Kopcau.

Lalu, Bayu yang dikenal sebagai desain grafis Kopcau menyodorkan diri untuk menyediakan kardus bekas sebagai pelapis kertas pesan tadi. “Tapi, untuk urusan balon kita minta bro Fiyan yah,” sergah bro Syaiful.

Balon gas akan dipakai untuk alat pelepasan pesan atau harapan dalam perenungan kali ini. Setiap pesan ditulis dan diikatkan pada tali yang diikatkan di balon. Lalu, balon dilepas ke udara.

kopcau wdor 2015 kardus bekas
Beberapa rencana terpaksa diubah. Balon gas pun akhirnya diganti dengan ondel-ondel. Saat menuju lokasi aksi simpatik, saya melihat ada anak-anak remaja sedang mengusung ondel-ondel dan saya minta bro Eko untuk melobby untuk mengajak mereka ikut aksi. “Mereka mau om Edo,” ujar bro Eko.

Jadilah aksi simpatik kali ini mengusung dua ondel-ondel. Budaya Betawi itu ikut meramaikan kampanye keselamatan jalan yang dibalut dalam WDOR 2015. Pilihan jatuh di dekat Patung Kuda di ujung Silang Monas di dekat kantor Bank Indonesia.

Para anggota Kopcau pun akhirnya memikat para jurnalis foto. Mereka berbondong-bondong mengabadikan aksi simpatik dan mempublikasinya di berbagai ranah media massa seperti Antara, Metro TV, RMOL, Berita Satu.com, hingga Tempo.

“Kencan gak melulu nonton dan makan-makan, sesekali ajak calon istri untuk berbuat kebaikan,” ujar bro Bayu yang foto dirinya dan sang kekasih menghiasai media online ternama seperti Metro TV dan Tempo.

Aksi simpatik yang bergulir sejak pukul 15.30 WIB akhirnya ditutup dengan sedikit evaluasi kecil pada 17.00 WIB. Evaluasi kecil yang dilakukan sambil lesehan di Silang Monas dilanjutkan ke parkiran hotel Mercure Sabang. “Kita juga bahas persiapan diskusi road safety yang akan digelar 18 Desember 2015 yah,” ajak bro Syaiful.

Generasi Produktif

Komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) mengajak masyarakat mencegah hilangnya generasi produktif akibat kecelakaan di jalan. Di Indonesia, sepanjang lima tahun terakhir kecelakaan telah menyebabkan hampir 800 ribu orang menjadi korban. Dari jumlah tersebut sekitar 17% berujung pada kematian.

kopcau wdor 2015_metrotv

“Kami menggugah kesadaran masyarakat untuk mencegah agar korban tidak terus bertumbangan di jalan,” ujar bro Saiful, ketua Kopcau, di sela aksi simpatik Hari Perenungan bagi Korban Kecelakaan Sedunia (World Day of Remembrance for Road Traffic Victim), di Jakarta, Sabtu (14/11) sore.

Salah satu cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah lewat cara berkendara yang aman dan selamat. Hal itu bisa dilakukan dengan cara selalu berkonsentrasi dan waspada saat berkendara. “Termasuk tidak mudah terprovokasi dan mengumbar emosi di jalan,” katanya.

Di Indonesia, seperti dilansir data Korlantas Polri, mayoritas korban kecelakaan adalah kelompok usia produktif. Sepanjang lima tahun terakhir, 2011-2015, dari total korban yang mencapai hampir 800 ribu orang, sekitar 70% nya adalah mereka yang di rentang usia 16-50 tahun. Mereka mulai dari korban luka ringan, luka berat, hingga meninggal dunia.

“Hilangnya generasi produktif akan menghambat pembangunan termasuk mewujudkan kesejahteraan bangsa,” katanya.

Apalagi, seperti dilansir Bappenas, kerugian langsung dan tidak langsung akibat kecelakaan lalu lintas jalan mencapai Rp 250 triliun per tahun.

Bagi saya, tak cukup hanya mengajak masyarakat. Butuh dukungan dari pemerintah termasuk Kepolisian RI untuk memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas. Untuk hal ini pemerintah mutlak menyediakan suprastruktur dan inrastruktur transportasi.

kopcau wdor 2015_tempo 3

Lalu, Kepolisian RI diharapkan mampu lebih tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Dan, puncaknya, para pemangku kepentingan keselamatan jalan dapat lebih bersinergi.

Sinergisitas menjadi kata kunci dalam pencapaian target penurunan fatalitas.
Aksi Kopcau kali ini digelar dalam bentuk renungan bagi korban kecelakaan yang diikuti oleh anggota Kopcau dan kelompok lainnya. Selain itu, Kopcau juga berkampanye kepada pengguna jalan lewat aksi membentangkan poster berisi pesan keselamatan jalan.
kopcau wdor 2015 evaluasi

Kopdar Pengicau didirikan di Jakarta pada 23 Desember 2012. Awalnya, komunitas ini beranggotakan para admin twitter dari komunitas atau klub sepeda motor di Jabodetabek. Kini, setiap individu bisa menjadi anggota komunitas itu asal memiliki kepedulian pada masalah keselamatan jalan.

Dalam kopdar yang digelar dua minggu sekali pada Jumat malam, Kopdar Pengicau menelorkan satu poster digital yang berisi pesan kampanye keselamatan jalan. Poster digital itu disebar lewat akun twitter @kopdarpengicau dan akun para anggotanya. Selain itu, disebar juga lewat media sosial lainnya seperti facebook, path, dan makro blogging hingga media massa konvensional. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: