Skip to content

Di Trotoar Ini Pesepeda Kayuh Dilarang Melintas

11 November 2015

trotoar scbd sepeda tak boleh

SIANG terus beranjak menuju sore. Langit mulai ditutupi awan. Sejumlah kendaraan bermotor hilir mudik di atas aspal nan mulus. Saya melenggang, berjalan kaki.

Selaku pedestrian, melintas di atas trotoar di kawasan Sudirman Central Bussiness District (SCBD), Jakarta Selatan terasa nyaman. Trotoarnya cukup lebar. Kalau orang dewasa dijajarkan, bisa menampung enam orang. Belum lagi rerimbunan daun nan menghijau yang tumbuh di kanan kiri trotoar. Pokoknya, nyaman abisss.

Trotoar yang berada persis di dekat gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pusat perbelanjaan modern Pacific Place itu memang terkenal nyaman. Sekalipun siang hari terasa nyaman karena rindangnya dedaunan pohon besar yang ada di sisi trotoar. SCBD adalah salah satu pusat perkantoran elit di Jakarta, bahkan di Indonesia. Di kawasan ini setiap hari terjadi perputaran uang ratusan triliun rupiah. Tepatnya, transaksi di lantai bursa BEI.

Nah, siang itu yang menggoda perhatian saya adalah rambu jalan yang terdapat di mulut trotoar yang mengarah ke Pacific Place. Di bagian kiri terdapat rambu berwarna kuning dengan gambar lingkaran merah, kuning, dan hijau. Di bawah rambu itu ada rambu penyeberang jalan, masih dengan warna latar kuning.

Di sebelah kanan rambu itu ada rambu berwarna merah melingkar dengan gambar sepeda motor dan sepeda kayuh disilang. Di bawah lingkaran merah itu ada tulisan cukup mencolok ‘motor dan sepeda dilarang naik pedestrian.’

Inilah rambu yang menggoda perhatian saya. Sepintas barangkali tidak ada yang keliru. Tapi coba perhatikan baik-baik. Pertama, kalimat pelarangan sepeda untuk melintas. Seingat saya, Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No 5 Tahun 2014 tentang Transportasi mengizinkan pesepeda kayuh melintas di trotoar. Coba saja tengok pasal 90 ayat (3). Di situ disebutkan bahwa pada jalan yang belum tersedia lajur sepeda, pengendara sepeda dapat melintasi fasilitas pejalan kaki berupa trotoar dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki.

Sepenglihatan saya, di ruas jalan itu tidak tersedia fasilitas lajur sepeda. Artinya, bisa saja pesepeda kayuh melintas di trotoar tersebut.

Nah, yang kedua adalah soal kata ‘pedestrian.’ Kerap kali menggunakan kata ‘pedestrian’ untuk sebutan trotoar. Padahal, makna kata ini adalah ‘pejalan kaki.’ coba saja simak di kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di versi KBBI online, bisa disimak disini.

Kalau soal rambu, sekadar mengingatkan kita, setidaknya ada empat jenis rambu yang berlaku di Indonesia. Keempatnya mencakup rambu peringatan, rambu larangan, rambu perintah, dan rambu petunjuk. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: