Skip to content

Pahlawan Itu Respek Pada Sekeliling

10 November 2015

rsa di kompas para gila

PAGI menjelang siang. Ungkapan nasionalisme lewat ucapan selamat Hari Pahlawan, 10 November, demikian bergemuruh di media sosial. Terharu.
Perjalanan bangsa ini demikian berliku. Melepaskan diri dari kungkungan penjajahan hingga akhirnya memerdekakan diri lewat pengorbanan jiwa raga ratusan ribu orang lebih. Mereka gugur demi martabat bernama bangsa Indonesia.

Kini, banyak ‘pahlawan’ di sekeliling kita. Mereka berjuang tanpa tanda jasa. Ada yang menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Ada yang menjaga dan membersihkan lingkungan kantor kita. Bahkan, ada yang sudi dan menjaga tanpa pamrih keselamatan kita di jalan raya.

Saat masa perjuangan ratusan ribu jiwa dan mungkin lebih yang gugur memerdekakan negeri. Kini, pada masa kemerdekaan ratusan ribu orang tewas sia-sia di jalan raya. Sepanjang 1992-2014 lebih dari 300 ribu orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Memprihatinkan.

Memang tak mudah mengisi kemerdekaan yang diraih dengan susah payah. Ketika kemakmuran tercermin lewat bertumbuhnya kota, berkeliarannya kendaraan bermotor di jalan-jalan kota. Ada sisi lain yang mesti menjadi perhatian kita. Perilaku berlalu lintas jalan yang tak segan-segan mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Lihat saja mereka yang saling serobot. Mereka yang merampas hak pengguna jalan lain. Bahkan, perilaku arogan dengan mempertontonkan kekuatan dan kekuasaan seperti aksi koboi jalanan. Mereka lupa, kemerdekaan yang dienyam saat ini lewat perjuangan yang luar biasa. Lewat pengorbanan jiwa raga para pahlawan yang tak pernah kenal pamrih. Mereka rela gugur demi anak cucu yang diharapkan hidupnya kelak lebih baik ketimbang di bawah telapak kaki tuan penjajah.

Para pahlawan mengajarkan kepada kita perilaku rela berkorban untuk menentang kekuatan kaum penguasa yang merampas kemerdekaan anak negeri. Rela berjuang untuk melawan kedzaliman dan kesewenang-wenangan mestinya menjadi titik penting pembelajaran hari ini. Pada praktiknya, kita menjadi orang-orang yang tidak lagi merampas hak orang lain, termasuk di jalan raya.

Perilaku sudi berbagi ruas jalan dan respek kepada sesama pengguna jalan menjadi symbol perlawanan terhadap keangkuhan zaman. Orang-orang yang dengan gagah menindas sesamanya di jalan menjadi sosok yang menyeramkan. Mungkin dia lupa, ketauladanan para pahlawan bisa diteruskan lewat sudi berbagi dan respek dengan sekeliling kita. Angkara murka harus dienyahkan. Selamat Hari Pahlawan. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: