Skip to content

Mereka Jadi “Senator” Karena Pilihan

6 November 2015

vespa tua bertiga-1

HIDUP adalah pilihan. Setiap tindak tanduk kita merupakan pilihan yang harus dijalani. Salah satunya, memilih untuk menjadi senang naik motor atau diplesetkan menjadi “senator.”

Entah siapa yang memulai penyebutan “senator” itu. Pastinya, di sekeliling kita banyak yang memilih untuk menjadi “senator” dengan beragam alasan. Di lingkungan tempat kerja saya, mereka yang memilih menjadi “senator” lebih karena kendaraan bermotor roda dua itu dianggap lebih mangkus dan sangkil. Tentu saja jika dibandingkan dengan penggunaan angkutan umum, bahkan dengan menggunakan mobil pribadi. Maklum, Jakarta punya masalah dalam soal waktu tempuh, bukan jarak tempuh.

Maksudnya, sekalipun jarak tempuh hanya dua hingga lima kilometer, tapi waktu tempuh yang dibutuhkan bisa berlipat-lipat dibandingkan dengan kawasan perdesaaan, atau kota kecil. Sebagai ilustrasi, menunggang kuda besi waktu tempuh untuk jarak 20 kilometer membutuhkan 50 menit. Namun, dengan menggunakan angkutan umum bisa menyentuh hingga 90 menit. Bahkan, dengan menggunakan mobil pribadi bisa 75 menit.

Memang, bukan semata soal waktu tempuh. Ada kepuasan tersendiri bagi para “senator.” Salah satunya, soal kebebasan dari satu titik ke titik yang lain. Bahkan, ada yang menikmatinya dalam wujud kebebasan menyatu dengan alam. Menikmati terpaan angin dan bercumbu dengan terik dan debu yang bertebaran. Abstrak memang, tapi begitulah ada sebagian hal yang sulit tuangkan dalam kata-kata. “Senator” adalah sebuah kepuasan batin. Dahsyat kan?

“Gue memang senang naik motor karena lebih fleksibel,” ujar seorang pria muda saat berbincang dengan saya, di Jakarta, belum lama ini.

Pria yang sehari-hari bekerja selevel manajer itu naik motor bukan karena tidak punya mobil pribadi. Di rumahnya ada dua mobil pribadi yang baru dipakai ketika akhir pekan ketika jalan bersama anggota keluarga. Sepeda motor menemaninya mencari nafkah setiap hari.

Di sisi lain, ada yang menilai pilihan memakai sepeda motor lantaran angkutan umum belum memadai. Bahkan, ada yang menyimpulkan bahwa pilihan itu diambil karena terbatasnya alternatif. Pilihan yang masuk akal adalah menunggang kuda besi. Apapun latar belakangan pengambilan keputusan, pastinya bersepeda motor bukan tanpa risiko. Secara alamiah ada ancaman soal kesehatan, termasuk dalam hal ini adalah masalah kecelakaan lalu lintas jalan.

Para “senator” banyak yang memahami hal itu walau ada juga yang tak sepenuhnya menyadari. Sekalipun, bila merujuk data yang disodorkan Korlantas Polri sekitar 70% kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas jalan adalah sepeda motor. Ancaman demi ancaman di jalan raya bisa diminimalisasi lewat sejumlah ikhtiar. Sekali lagi, ikhtiar adalah salah satu bagian dari pilihan. Memilih ikhtiar adalah pilihan.

Salah satu ikhtiar yang dengan mudah bisa kita lakukan adalah senantiasa berkonsentrasi saat menunggang si kuda besi. Landasan untuk berkonsentrasi adalah senantiasa fokus dan waspada. Segenap pikiran dan perhatian dicurahkan untuk mengemudi. Tak sudi untuk terusik oleh hal lain apalagi sekadar menjawab panggilan telepon. Termasuk tidak sudi untuk terprovokasi sehingga lepas kendali saat mengemudi.

Sekali lagi, hidup adalah pilihan. Termasuk untuk sudi berbagi ruas jalan saat berkendara dan sudi menaati aturan yang ada di jalan raya. Aturan sudah ada, tinggal kita memilih. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 6 November 2015 08:39

    Inspiratif…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: