Lanjut ke konten

Belajar Dari Kijang Nyeruduk Dua Taksi

4 November 2015

lalin jakarta dan jpo

SUASANA malam dibalut hujan. Arus kendaraan bermotor ramai lancar. Banyak para pesepeda motor yang memilih berteduh ketimbang merinding diguyur dinginnya air hujan. Di salah satu sudut jalan yang lain, cerita menjadi lain.

Samhat, kita sapa saja demikian, tak pernah membayangkan jika malam itu adalah babak baru dalam dirinya. Mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan sedang. Di depan Samhat tampak sejumlah mobil lain yang berjalan searah maupun yang lalu lalang dari arah berlawanan. Sesaat pikirannya melayang kepada sisa pekerjaan yang harus dirampungkan di rumah. Maklum, sebagai pekerja level menengah, ada saja beban yang disodorkan atasan. Kadang, bahkan harus lembur di akhir pekan.

Tiba-tiba, dia melihat mobil yang persis di depannya berhenti mendadak. Praktis dia coba mengerem dan banting setir ke kiri. Apa daya, bember depan Kijang-nya mencium bemper taksi yang ada di depannya. Brak!!

Belum selesai, taksi yang diseruduknya menjadi terdorong dan ikut mencium bember belakang mobil yang ada di depannya. Taksi yang dicium Samhat mencium taksi yang ada di depannya. Tak ada korban cedera apa lagi hingga meninggal dunia. Kecelakaan menimbulkan kerusakan barang.

Tunggu dulu. Kisah Samhat belum selesai. Setelah adu mulut kisah kecelakaan itu pun bergulir ke pengadilan. Samhat harus bergulat dengan proses pengadilan yang membidiknya dengan Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Setelah melewati proses pengadilan selama enam bulan, Samhat harus puas dengan putusan pengadilan. Majelis Hakim menjeratnya dengan pasal 310 ayat (1) Jo Pasal 106 ayat (1) UU No 22/2009. Samhat pun dijatuhi sanksi pidana penjara selama satu bulan. Tidak hanya itu dia juga dikenai sanksi denda Rp 1 juta.

Tentu banyak diantara kita yang tak ingin mengalami kecelakaan lalu lintas jalan. Apalagi, kemudian ditambah dengan sanksi penjara dan denda. Rasanya menjadi mimpi buruk di siang hari.

Oh ya, pasal 310 ayat 1 berbunyi seseorang yang lalai dan menyebabkan kecelakaan ringan dengan kerusakan kendaraan dan/atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama enam bulan dan/atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Sedangkan pasal 106 ayat satu menyebutkan setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar
dan penuh konsentrasi. (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. 4 November 2015 14:37

    mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith

  2. 5 November 2015 11:04

    proses sidangnya benar2 ancaman..

    http://kasamago.com/

  3. 5 November 2015 15:49

    Makasih atas infonya , Adria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: