Skip to content

Ketemu Sopir Travel Ogah Nongkrong di RHK

3 November 2015

rhk semarang

MINGGU pagi di kota Semarang. Lalu lalang kendaraan bermotor ramai lancar kecuali di area Simpang Lima yang sedang menggelar car free day.

Di area itu yang tumpah ruah justeru pedestrian. Mereka berjalan santai atau berlari kecil. Di bagian lain area tersebut juga tampak pesepeda kayuh. “Jam sembilan kita sudah boleh melintas,” ujar seorang sopir travel yang mengantar kami pagi itu.

Sang pengemudi adalah pria muda. Pagi itu dia mengenakan baju bercorak batik abu-abu dipadu celana panjang hitam serta sepatu kulit hitam. Mobil yang dikendarainya Toyota Innova keluaran tahun 2013 yang juga berwarna hitam. “Harga sewanya bila plus sopir dan bensin Rp 750 ribu untuk 18 jam,” ujar Manto, kita sebut saja begitu.

Cara mengemudi Manto tergolong santun. Misal, dia senantiasa memberi lampu isyarat (sein) saat hendak berbelok atau pindah lajur. Bahkan, dia melaju dalam kecepatan sedang sekalipun jalan lengang. Godaan memacu kendaraan tak meluluhkan kesantunannya.

Ketika kami memasuki area sebuah persimpangan jalan terjadi pemandangan menarik. Saat itu lampu pengatur lalu lintas berwarna merah. Mobil pun dihentikan persis di belakang ruang henti khusus (RHK) sepeda motor. Di area yang bergambar pesepeda motor dengan cat warna putih tampak beberapa penunggang kuda besi.

“Kenapa tidak berhenti disitu (di atas RHk),” tanya saya mencaritahu.

“RHK kan untuk sepeda motor pak, bukan hak pemobil,” jawab Manto.

Lagi pula, sambungnya, kalau berhenti disitu bakal ditilang. Dan, di sudut kiri jalan itu ada pos polisi. “Kalau kena petugas bisa-bisa bayar Rp 50 ribu,” katanya.

Mendapat jawaban seperti itu saya cuma bisa manggut-manggut. Semoga kian banyak Manto-manto lain yang sudi berbagi ruas jalan dengan salah satunya tidak menyerobot RHK. Maklum, di sejumlah RHK yang saya lihat di Bogor, Depok, atau Bandung, tak jarang pemobil yang dengan enteng nonngkrong di atas RHK.

Padahal, denda untuk pelanggaran atas marka dan rambu cukup besar. Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) bilang, para pelanggar marka dan rambu bisa diganjar denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, ini yang repot, bisa dikenai sanksi pidana penjara maksimal dua bulan. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 3 November 2015 15:14

    Salut utk si Travel dan Pos Polisi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: