Skip to content

Drama Memalukan di Terminal Tiga

1 November 2015

bandara ruang tunggu

AJAIB, masih saja ada kelakuan serobot menyerobot di fasilitas transportasi udara berkelas internasional. Pengalaman di terminal tiga Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten yang saya alami baru-baru ini seakan menyiratkan bahwa kita mesti belajar lagi soal disiplin.

Siang itu, di penghujung Oktober 2015 saya hendak terbang ke Semarang, Jawa Tengah. Saat hendak memasuki area terminal keberangkatan terlihat antrean. Tampak sejumlah calon penumpang pesawat antre. Satu persatu maju perlahan. Petugas bandara memeriksa tiket calon penumpang.

Tampak sejumlah rombongan antre dengan sabar. Begitu juga dengan satu keluarga yang terdiri bapak, ibu, dan seorang anak balita. Mereka berada di depan saya. Di belakang, saya lihat antrean juga cukup panjang. Maklum, terminal tiga yang dibangun pada 2009 ini melayani rute penerbangan domestik dan internasional.

“Sabar dulu ya bu, tunggu yang masih antre untuk pemeriksaan di pintu depan,” ujar seorang pria muda petugas bandara yang memeriksa tiket calon penumpang, Sabtu, 31 Oktober 2015 siang.

Antrean pun tertahan. Di bagian depan tampak calon penumpang lain yang sedang antre untuk pemeriksaan barang di jaur sinar X dan pintu pemindai logam. Tiba-tiba dari arah belakang saya hadir seorang pria muda berbadan kelam. “Mas bisa dipercepat nggak nih?” ujar pemuda berkacamata hitam itu dengan nada angkuh.

Sang petugas yang ditanya seperti itu meminta sang pemuda bersabar. Semua berjalan normal hingga akhirnya sang pemuda tadi menyerobot antrean dari sisi kiri jejeran calon penumpang yang lain. Setiba di depan petugas dia menyodorkan lembaran kertas tiket. Dan, ironisnya sang petugas pun mempersilakan pemuda berambut ikal itu untuk terus masuk ke area keberangkatan.

Entah apa yang membuat pemuda tadi tampak tergesa-gesa. Dan, entah apa yang membuat sang petugas dengan entengnya mengizinkan sang penyerobot melenggang begitu saja. Aksi tersebut membuat sejumlah calon penumpang menggerutu.

Setelah melewati antrean di pintu masuk dan hendak masuk ke pemindai logam, saya menanti seorang bapak dan seorang remaja puteri. Saat bapak tadi selesai, giliran remaja puteri itu diperiksa. Namun, tiba-tiba dari arah belakang tampil penyerobot. Kali ini seorang pria muda dengan pakain trendy. Tak ada raut wajah merasa bersalah, sang pemuda tadi dengan entengnya menyerobot masuk ke pemindai logam. Hari yang aneh.

Di dalam area ruang keberangkatan, saya sempat mampir ke kedai makanan dan minuman convenience store terkenal. Setelah mengambil satu roti dan satu air minum dalam kemasan saya pun ikut antre. Di belakang saya ada ibu-ibu dan di depan saya ada seorang remaja puteri dan seorang pria asing. Tiba-tiba, setelah pria asing itu selesai membayar, muncul pria berkulit legam yang menyerobot membayar di kasir yang semestinya saya membayar. Belum selesai. Tiba-tiba muncul lagi kawan si pria muda itu dan menyela antrean kami.

“Mungkin mereka sekolahnya nggak benar sehingga tidak memiliki kepekaan dengan sesama sehingga saling serobot,” ujar ibu-ibu yang ada di belakang saya.

Saya hanya mengangguk kepada ibu tadi. Dalam satu hari melihat tiga aksi serobot di area yang mayoritas adalah masyarakat berkocek tebal. Pengguna transportasi udara tentu membayar jauh lebih mahal ketimbang menggunakan angkutan kota (angkot) yang mayoritas adalah masyarakat berkantong tipis. Tapi, nyaris jarang sekali terlihat penumpang angkot saling serobot.

Bisa terbayang bagaimana aksi serobot menyerobot itu terjadi di jalan raya? Kian karut marut lalu lintas jalan kita. Tak heran jika kemudian mencuat bahwa mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku melanggar aturan. Perilaku mencari jalan pintas dengan menerabas aturan yang ada. Misal, menerobos lampu merah atau melawan arus. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. dwie s permalink
    1 November 2015 14:10

    Hasil revolusi mental kali yah…….ingin menang sendiri..

  2. bukanorangindo permalink
    1 November 2015 20:12

    mungkin mereka sudah merasa keren dan lebih tinggi “derajat” nya karena merasa lebih kaya. niatnya mau kelihatan “keren” tapi hasipnya? jadi seperti orang kampung yang pertamakali ke bandara

  3. dewa permalink
    2 November 2015 08:24

    Itulah karakter indonesia .. saling serobot .. angkuh dan masih banyak lagi sikap negatif lain nya .. tidak pantas rasa nya dikaitkan dengan lalu lintas .. lebih tepat lagi apabila dalam struktural negara ini masih ada yg seperti mereka .. jangan pernah berharap indonesia akan menjadi negara yang lebih baik lagi .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: