Lanjut ke konten

Begini Mestinya Sumpah Pemuda Era Kekinian

28 Oktober 2015

sumpah keselamatan jalan 2015

PADA 28 Oktober 1928 kita diperkenalkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saat itu pula menggema apa yang disebut dengan Soempah Pemoeda; Bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia!

Perjalanan bangsa kita menunjukkan andil anak-anak muda dalam membesarkan Nusantara. Peristiwa demi peristiwa sejarah memperlihatkan hal itu sebut saja misalnya, Proklamasi 17 Agustus 1945, lahirnya angkatan 1966, hingga munculnya era reformasi pada 1998. Darah muda selalu menggelegak untuk menumbangkan angkara murka untuk menggantinya dengan kehidupan yang lebih baik.

Kini, saat Indonesia terus berbenah dari berbagai lini kehidupan, anak-anak muda juga punya andil. Mereka hadir dalam wujud yang berbeda-beda. Ada politikus, seniman, ilmuwan, hingga saudagar. Laju pertumbuhan ekonomi pun terus mengalir, sekalipun tahun 2015 ini situasi sedang gagap karena terpaan ekonomi global.

Pertumbuhan ekonomi yang salah satunya dicerminkan oleh laju pertumbuhan motorisasi ternyata juga punya implikasi lain. Saat ini, setidaknya ada 100 jutaan unit kendaraan bermotor. Mayoritas kendaraan, yakni lebih dari 70% adalah sepeda motor.

Salah satu implikasi meruyaknya motorisasi adalah bermunculannya kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, korban yang bergelimpangan mayoritas adalah anak-anak muda, khususnya rentang usia 30 tahun ke bawah, yakni 16-30 tahun. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan adalah pemicu kematian utama untuk kalangan usia 15-29 tahun.

Sepanjang rentang 2010-2015, kelompok usia muda menjadi korban kecelakaan sekaligus pelaku kecelakaan terbanyak. Data Korlantas Polri memperlihatkan, dalam rentang waktu tersebut lebih dari 370 ribu korban kecelakaan adalah mereka yang berusia 16-30 tahun. Kelompok usia ini menyumbang sekitar 39% terhadap total korban kecelakaan di Indonesia.

Kita tahu bahwa mayoritas kecelakaan dipicu oleh perilaku manusia. Mulai dari perilaku semau gue, arogan, hingga emosi yang meledak-ledak dan mudah terprovokasi. Semua perilaku itu bisa menggoyahkan konsentrasi saat mengemudi sehingga ujungnya bisa berhenti di kecelakaan.

Di tengah itu semua, rasanya amat pantas jika generasi muda berani bersumpah sekaligus mengepalkan tangan dan meninju petaka jalan raya. Memangkas fatalitas di jalan raya. Semestinya, dalam situasi kekinian generasi muda berani bersumpah seperti ini;

Bertanah Air Satu,
Tanah air tanpa petaka di jalan raya

Berbangsa Satu,
Bangsa tanpa arogansi di jalan raya

Berbahasa Satu,
Bahasa tanpa diskriminasi di jalan raya

Indonesia mesti mampu memangkas fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas jalan yang saat ini merenggut 70-an jiwa per hari. Bila pemerintah berani menargetkan penurunan fatalitas hingga 50% pada 2020, anak-anak muda bisa mempercepat pencapaian target itu lewat perwujudan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan tanpa petaka, arogansi, dan perilaku diskriminasi. (edorusyanto)

One Comment leave one →
  1. 28 Oktober 2015 07:06

    “Bangsa tanpa arogansi dijalan raya.”
    Susah ini om. Kbnyakan dan hmpir smua arogan d jalan raya ketika pd touring rombongan dg club nya. Apalagi dtmbah dikawal aparat. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: