Skip to content

Penjaga Taman yang Mengandalkan Kereta

25 Oktober 2015

kereta api dan motor1

KAMI duduk di bangku besi beratap juntaian daun. Ada dua bangku yang dibuat memanjang dengan kapasitas total empat orang. Dedaunan nan menghijau membuat udara terasa sedikit lebih sejuk di tengah terik yang membalut Jakarta siang itu.

“Mau kerja pak?” Sapa pemuda yang saat saya tiba sudah duduk disitu.

“Iya. Mau ketemu teman kerja,” jawab saya sekenanya.

Siang itu saya memilih istirahat sejenak sebelum masuk ke gedung tempat janjian ketemu dengan teman. Istirahat sejenak sekaligus mempersiapkan materi. Maklum, perjalanan sekitar 30 kilometer dari pinggiran ke jantung Jakarta lumayan membuat keringatan jika menunggang kuda besi.

Sepintas saya lirik anak muda itu. Saya perkirakan usianya baru dua puluh tahunan awal. Seragam yang dikenakannya membuat saya menduga-duga dia bekerja di gedung yang saya sambangi siang minggu ketiga Oktober 2015 itu.

“Saya baru kerja disini,” seloroh dia tiba-tiba seperti mampu membaca jalan pikiran saya.

Saya pikir lumayan juga ngobrol sambil melepas lelah.

“Kerja bagian apa?” tanya saya.

Dia pun bercerita bahwa baru saja diterima bekerja sebagai penjaga taman. Profesi yang berbeda dibandingkan pekerjaan sebelumnya sebagai teknisi. Malah jauh berbeda dengan latar belakang pendidikannya yang dibidang administrasi. “Setiap jam delapan pagi saya menyirami taman di gedung ini. Termasuk juga membersihkan dedaunan yang rontok,” katanya.

Pembicaraan jadi menarik perhatian saya ketika dia bercerita soal kendaraan yang dipakai untuk bermobilitas setiap hari.

“Saya setiap hari naik kereta dari Bogor. Setiba distasiun Jakarta tinggal jalan kaki ke kantor,” jelasnya.

Berbekal biaya sekitar Rp 6 ribu untuk naik kereta rel listirk (KRL) jurusan Bogor-Jakarta, dia sudah bisa pulang pergi rumah ke kantor. Walau ada tambahan biaya untuk naik angkot, praktis biaya transportasinya tidak terlalu besar. “Sehari paling saya habis Rp 20 ribu, itu udah ditambah beli rokok beberapa batang. Soalnya, saya dapat jatah makan siang di kantor yang ikut menghemat pengeluaran,” paparnya.

Dia mengaku tidak kuasa menunggang sepeda motor dari arah pinggiran Bogor ke Jakarta. Jarak tempuh yang cukup jauh, sekitar 40 kilometer (km) dari rumahnya ke kantor. “Saya belum coba naik motor, tapi rasanya kok jauh dan pasti melelahkan,” kata dia.

KRL menjadi andalan untuk urusan transportasi pemuda yang mengaku mendapat gaji kurang dari Rp 2 juta per bulan itu. Setiap hari dia memadukan KRL dengan angkot serta berjalan kaki dari kantor ke stasiun dan sebaliknya.

Ini salah satu potret bagaimana KRL atau kereta menjadi andalan transportasi warga Jakarta dan sekitarnya. Mereka yang masuk dan keluar Jakarta dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi punya harapan agar kereta tetap hadir. Lewat layanan yang prima serta kondisi kereta yang nyaman kian membuat warga sumringah. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: