Lanjut ke konten

Cerita di Balik Dengkul

25 Oktober 2015

sop dengkul_resepdankulinercom

SAAT saya sekolah dasar (SD) tahun 1970-an sering mendengar istilah “modal dengkul”. Butuh bertahun-tahun untuk akhirnya saya memahami istilah “modal dengkul”.

Di kampung kami yang terletak di pinggiran Jakarta, sebutan “modal dengkul” dipakai untuk orang-orang yang bekerja keras dalam meraih keberhasilan. Tidak punya modal uang, tapi punya semangat baja. Namun, berkat kerja keras dan kesungguhannya, seseorang yang “modal dengkul” itu belakangan bisa saja meraih sukses.

Umumnya, orang yang “modal dengkul” tadi tak punya koneksi ke bank buat meraih modal. Dan, tentu saja tak mampu ber-KKN untuk menjadi pejabat atau pegawai negeri.

Masih soal dengkul, memasuki masa sekolah menengah pertama (SMP) pada awal tahun 1980-an adalah istilah seputar dengkul, yakni “dengkul kopong.” Nah, istilah ini menjadi guyonan cukup kondang pada masa 1980-an dan 1990-an. Kami yang remaja pada masa itu menjadikan istilah “dengkul kopong” sebagai olok-olok kepada teman remaja lainnya yang dianggap loyo. Maksudnya, sering lemas saat berolah raga lari atau bermain sepak bola.

Cerita soal dengkul yang lain adalah tentang adu dengkul. Kalimat ini bukan kiasan, melainkan makna sebenarnya, yakni dengkul saling beradu. Sebutan ini dipakai untuk kami para pengguna angkutan kota (angkot). Saking sesaknya penumpang angkot yang kebutulan posisi duduknya berhadap-hadapan, dengkul para penumpang saling berbenturan. Karena itu, lahirlah istilah adu dengkul.

Angkot menjadi salah satu angkutan favorit bagi kami warga pinggiran Jakarta pada awal 1980 hingga awal tahun 2000. Kini, keberadaan angkot perlahan terkikis oleh kehadiran sepeda motor. Selain lantaran mudahnya cara pembelian sepeda motor, tapi juga karena si roda dua itu dianggap lebih mangkus dan sangkil dibandingkan angkot. Remaja di kawasan pinggiran Jakarta tempat kami tinggal saat ini nyaris tak lagi akrab dengan istilah adu dengkul. Walau keberadaan angkot masih ada dan beroperasi hingga malam hari. Angkot saat ini cenderung ukurannya sedikit lebih luas sehingga potensi adu dengkul peluangnya amat kecil.

Kisah soal dengkul juga merembet hingga meja makan. Di Jakarta dan sekitarnya lihat saja banyak penjual makanan sop dengkul sapi. Hidangan ini begitu nyaman di perut para penyuka sop kaki sapi. Sebagian pedagang menyajikannya dengan dibalut santan sehingga menambah kenikmatan saat sop dinikmati dalam kondisi hangat.

Nah, cerita seputar dengkul yang cukup populer di masyarakat kita adalah soal rok di atas dengkul. Hanya saja, untuk soal yang satu ini saya kurang memiliki literatur dan studi empiriknya.

Pastinya, cerita soal dengkul cukup banyak di masyarakat kita. Mulai dari mereka yang bermodal dengkul dalam meraih sukses hingga memanfaatkan dengkul untuk berlenggak-lenggok di atas catwalk maupun menggaet isi dompet. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: