Skip to content

Sumpah Serapah di Jalan Raya Kita

23 Oktober 2015

busway gatsu dilibas kejepit

“Bego lu!”

Kalimat diatas memang tak pantas. Apalagi jika persoalannya lantaran memaksa seseorang melanggar aturan di jalan.

* * *

Suatu siang, di tengah sesaknya jalan raya Jakarta, banyak ulah pengguna jalan yang aneh-aneh. Ada yang pura-pura tidak tahu aturan dengan merangsek garis setop di perempatan jalan. Tak peduli pesepeda motor, sopir angkutan umum, hingga pengendara mobil pribadi. Bahkan, tak peduli mobil biasa atau mobil mewah. Semua acuh tak acuh.

Ada yang cuek bebek merangsek trotoar jalan. Para pengendara sepeda motor menumpuk di jalur pejalan kaki. Kuda besi berhimpitan dengan pedestrian. Tak ada rasa bersalah, bahkan tak jarang pedestrian yang mengalah.

Nah, diantara itu semua ada kejadian yang membuat trenyuh. Saat itu, lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah. Terjadi antrean mengular di pertigaan jalan Kalibata, Jakarta Selatan arah ke Pancoran, Jakarta Selatan. Penumpukan kendaraan sudah terjadi di ujung pertigaan. Nyaris tak ada celah.

Tampak seorang bapak menunggang sepeda motor dengan sabar menanti lampu berganti warna hijau. Sepintas saya lihat dari jarak sekitar tiga meter dia berhenti di belakang garis setop.

“Wah disiplin juga tuh bapak,” gumam saya dalam hati, pada suatu siang beberapa waktu lalu.

Benar saja, dia tak tergoda melibas garis henti dan zebra cross yang ada di depannya. Sementara itu, di kanan sang bapak mulai menyelusup satu dua motor yang merangsek zebra cross.

Tiba-tiba dari arah belakang muncul pria muda yang meminta sang bapak untuk maju. Rupanya pria tadi adalah kondektur angkutan umum Kopaja. “Maju pak. Nggak apa-apa. Maju aja,” pinta pria itu.

Sang bapak menggeleng dan menunjuk ke arah lampu yang berwarna merah. Sang pria pun melengos kembali ke arah bus nya. Sambil berjalan sang pria tadi bergumam singkat. “Bego lu!”

* * *

Saya jadi ingat tulisan di laman terapiemosi.com. Laman itu mengurai soal psikomatis. Disebutkan bahwa psikosomatis adalah penyakit atau reaksi fisik yang timbul akibat dari gangguan emosi negatif. Emosi negatif ini bisa berupa marah dan dendam membara, takut, frustasi, stress, dan berbagai emosi negatif sejenis.

Ngeri juga ternyata buntutnya. Laman itu mengutip buku “The Healing and Discovering the Power of the Water” karya Dr. Masaru Emoto. Disebutkan bahwa kemarahan selama 5 menit saja dapat membuat tubuh kita stress setara kerja 8 jam dan imune sistem menurun. Dendam, menyimpan kepahitan, membuat imun tubuh kita mati. Disitulah bermula awal segala penyakit. (edo rusyanto)

Iklan
7 Komentar leave one →
  1. 23 Oktober 2015 11:07

    waduh bahaya nich

    • 23 Oktober 2015 11:16

      mending ramah-ramah yah? 🙂

      • 23 Oktober 2015 11:17

        iya om

  2. 23 Oktober 2015 11:34

    jakarta, kota kesusu.
    kasihan.

  3. 23 Oktober 2015 14:24

    Marah 5 menit bisa berpengaruh smpe 8jam? Wuikk, ngeri jg y om

  4. Mas Barno permalink
    23 Oktober 2015 19:19

    Pencerahan Bung Edo..

  5. 25 Oktober 2015 10:18

    Berarti besok-besok kalo ada yg gitu….
    Pas nyuruh maju, giniin aja om…
    “waduh.. Saya GA BEGO/pura2 BEGO Om,ini udah pas garis stop”

    Nanti itu org bakal teriak “pinter lu!”

    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: