Skip to content

Pengakuan Pria Bersepeda Lipat Naik KRL

22 Oktober 2015

sepeda parkir di kampus its jatim

KOTA Jakarta tak pernah sepi dari serbuan warga disekitarnya. Saat ini, kota penyangga itu mencakup Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Setiap hari, lebih dari sejuta orang yang datang dan pergi dari Bodetabek ke Jakarta.

Pergerakan orang di Jakarta dan sekitarnya diakomodasi oleh beragam jenis kendaraan. Hasil survey yang digelar kementerian perhubungan (kemenhub) beberapa tahun lalu memperlihatkan bahwa mayoritas masih menggunakan kendaraan pribadi. Hanya sebagian kecil yang diakomodasi oleh angkutan umum. Baik itu oleh angkutan kota, bus, atau kereta rel listrik (KRL).

Penggunaan kendaraan pribadi, baik mobil maupun sepeda motor, menambah dramatisnya lalu lintas jalan di Jakarta. Karut marut lalu lintas jalan bak tak berujung. Kerugian demi kerugian pernah diberitakan akibat kemacetan lalu lintas jalan. Bahkan, jurus demi jurus coba dikeluarkan, tapi kemacetan belum. mampu ditaklukan.

Ajakan menggunakan angkutan umum masih belum membuahkan hasil maksimal. Ada saja aspek yang menjadi alasan. Hal yang sering mencuat adalah soal kenyamanan dan efisiensi yang dinilai belum memenuhi ekspektasi publik.

KRL menjadi salah satu tulang punggung angkutan umum di kawasan Jabodetabek. Setiap hari, ratusan ribu pengguna yang mampu diakomodasi angkutan berbasis rel ini. Konsumen KRL memadukan kereta dengan angkutan lainnya, seperti angkot dan bus dalam memenuhi kebutuhan mobilitasnya.

“Kalau saya, memadukan kereta dengan sepeda,” ujar Giri, seorang profesional di Jakarta, saat berbincang dengan saya di Jakarta, suatu malam, baru-baru ini.

Pria muda yang tinggal di kawasan BSD, Tangerang, Banten itu memanfaatkan sepeda kayuh untuk menuju stasiun kereta dan dari stasiun ke kantor. Lalu, dari kantor ke stasiun dan dari stasiun ke rumah.

“Di Jakarta saya berhenti di Stasiun Pal Merah,” katanya.

Dia mengaku total jarak tempuh bersepedanya berkisar 10-15 kilometer pulang pergi. Sedangkan waktu tempuhnya berkisar 20-30 menit. “Saya seminggu tiga kali naik kereta dan membawa sepeda. Itu saat saya masuk kerja malam,” ujar pria yang pernah empat tahun bersepeda Ciledug-Pejaten.

Berbekal sepeda lipat, Giri mengaku tidak leluasa ketika berkereta pagi, siang, dan sore hari. Kecuali, katanya, pagi hari dari arah Jakarta ke Tangerang. Saat itu, masih ada ruang untuk dirinya dan sang sepeda.

“Soal biaya transportasi, saat bawa sepeda dan naik kereta cuma ngabisin Rp 4 ribu buat pulang pergi,” katanya.

Tak hanya irit, bersepeda dan naik kereta ikut memperkecil polusi udara yang merangsek Jakarta. Andai ada ruang cukup bagi sepeda lipat di kereta,  boleh jadi banyak Giri-giri yang lain. (edo rusyanto)

12 Komentar leave one →
  1. 22 Oktober 2015 10:08

    sepeda lipat boleh di bawa masuk kereta ya om?

    • 22 Oktober 2015 10:21

      nah, begitu menurut pengakuan seorang warga.

  2. 22 Oktober 2015 11:28

    nha, coba ada gebong khusus buat para penglaju bersepeda seperti itu, terutama yang bukan sepeda lipat 😀

    • 23 Oktober 2015 10:55

      pasti asyik tuh yah? 🙂

  3. jape methe permalink
    22 Oktober 2015 16:39

    khusus sepeda lipat boleh naik commuter line, tapi kalo pas jam sibuk ya sulit. wong ndak bawa apa2 saja sudah desek2an

    • 23 Oktober 2015 10:55

      betul banget tuh 😦

  4. 23 Oktober 2015 10:44

    Sepertinya seru juga ya Pak kalau bawa sepeda di CL, tapi ya itu, kalau lagi peak hour, nggak bakal bisa masuk sepedanya. Seandainya ada gerbong khusus pesepeda, pasti banyak yang berminat bawa sepeda sebagai pendukung CL.

    • 23 Oktober 2015 10:56

      semoga kedepannya terwujud harapan publik ini. amin.

  5. 25 Oktober 2015 10:22

    Gimana kalo punya 2 sepeda? Yg satu ditinggal di stasiun palmerah, satu lagi di BSD..

    Enak kan?
    Ga perlu masuk2 kereta
    Tinggal di grendel aja
    Hehehe
    😀

    • 25 Oktober 2015 11:39

      benar juga tuh. ayo om giri beli sepeda satu lagi 🙂

  6. Tekad Adiyono permalink
    4 September 2016 08:16

    omTekad berharap ada 1/4 gerbong utk tanpa kursi utk sepeda. Dicoba dulu deeh

  7. David permalink
    20 Maret 2017 15:22

    Pak Edo, untuk sepeda yang biasa dipakai ke KRL rata2 ukurannya 16 atau 20 inci? Jika membawa sepeda 20 inci ke KRL apakah terlalu besar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: