Lanjut ke konten

Kisah Dua Sopir Taksi Penerobos Lampu Merah

20 Oktober 2015

lamer diterobos rambu tutup daun

HARI itu menjadi naas bagi Bunga, kita sapa saja demikian. Perempuan berusia duapuluh tahunan itu harus terpental dari sepeda motornya. Dia terlempar ke udara, menghantam kaca mobil, dan terpental ke sisi jalan. Semua gara-gara sopir taksi yang menerobos lampu merah.

Saat kejadian, Bunga mengendarai sepeda motor skutik. Situasi lalu lintas jalan kota Batam ramai lancar. Di persimpangan jalan lampu menyala hijau dan dia pun melaju. Tapi, baru beberapa saat melaju dia dihantam taksi yang ugal-ugalan.

Belakangan sang sopir mengaku dia terburu-buru dan tidak melihat ada sepeda motor. “Penumpang yang saya bawa minta cepat karena takut tertinggal kapal,”kata sang sopir seperti dilansir media setempat, awal tahun 2015.

Gara-gara kecelakaan itu semua menjadi berantakan. Bukan saja nasib sang sopir yang harus berurusan dengan banyak pihak. Tapi, Bunga yang tidak salah apa-apa harus menderita.

Setahun sebelumnya, masih di Batam, kasus serupa pernah terjadi. Seorang pengojek sepeda motor dan penumpangnya terluka lantaran ditabrak sebuah taksi yang menerobos lampu merah. Sang sopir yang hendak melarikan diri berhasil ditangkap oleh masyarakat dan diserahkan ke petugas kepolisian.

Sang pengojek dan penumpangnya yang masih belasan tahun harus dirawat di rumah sakit karena luka yang dideritanya.

Dua kasus sopir taksi yang menerobos lampu merah tersebut kian membuktikan kebenaran jargon bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran. Menerobos lampu merah jelas-jelas melanggar aturan yang ada, yakni UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan itu mewajibkan semua pengguna jalan mentaati rambu dan marka jalan.

Sanksi bagi pelanggar aturan ini amat jelas, yakni denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, penjara maksimal dua bulan. Pertanyaannya, kenapa menerobos lampu merah?

Beragam alasan yang mencuat seperti buru-buru, tidak ada yang menilang, hingga ikut-ikutan. Kesemua alasan itu mirip sebuah pembenaran. Jangan-jangan, alasan yang paling tepat adalah karena para pelanggar belum pernah merasa dirugikan atas pelanggaran yang dilakukannya.

Oh ya, sepanjang semester pertama 2015, kelakuan tidak tertib alias melanggar peraturan menjadi pemicu kedua terbesar kecelakaan di Indonesia. Dalam rentang waktu tersebut, kontribusi faktor tidak tertib menyumbang sekitar 30% terhadap total kecelakaan. Dalam enam bulan pertama 2015, setiap hari terjadi sekitar 76 kecelakaan yang dipicu tidak tertib di jalan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: