Skip to content

Fatalitas Akibat Tabrak Lari Lebih Mengerikan

18 Oktober 2015

adira kaki palsu

KELUARGA Nasihin bisa jadi tak pernah membayangkan kejadian yang menimpa pengayuh becak tersebut. Suatu ketika, saat mengantar penumpang seusai belanja di pasar, becaknya ditabrak oleh mobil dari arah belakang. Semua pun menjadi berantakan.

Becak ringsek. Belanjaan penumpang bertebaran di jalan raya. Nasihin dan penumpangnya, Zainal meregang nyawa. Sang penabrak tancap gas menghilang.
Nasihin dan Zainal adalah dua sosok korban tabrak lari dalam kecelakaan lalu lintas jalan di bumi Pertiwi yang masyarakatnya konon dikenal ramah tamah. Entah apa yang ada di benak sang penabrak, bukannya menolong malah melarikan diri seperti tak bernurani.

Dalam catatan Korlantas Polri terlihat bahwa kecelakaan tabrak lari dampaknya lebih mengerikan dibandingkan jenis kecelakaan lainnya. Bagaimana tidak, sekitar 22% dari korban tabrak lari berujung pada kematian. Sedangkan seluruh kecelakaan lalu lintas jalan yang berujung kematian kontribusinya sekitar 18%.
Data untuk periode semester pertama 2015 itu juga memperlihatkan bahwa kasus tabrak lari melonjak sekitar 45%. Setiap hari rata-rata terjadi 42 kecelakaan tabrak lari. Buntut dari kasus itu setiap hari sekitar 12 orang anak bangsa meregang nyawa di jalan raya.

Bisa jadi fatalitas tabrak lari lebih mengerikan lantaran sang korban kecelakaan terlambat mendapat pertolongan. Misal, tabrak lari terjadi di daerah yang sepi sehingga tidak ada saksi atau warga yang bisa menolong dengan segera. Berbeda dengan kasus kecelakaan yang sang pelakunya bertanggung jawab atau di lokasi sekitar kejadian banyak warga yang bisa membantu. Terutama, membantu sang korban agar cepat mendapat pertolongan petugas medis.

Mereka yang masuk kategori pelaku tabrak lari adalah pelaku kecelakaan lalu lintas jalan yang tidak menolong sang korban, namun justeru pergi menghilang. Beda kasusnya jika sang pelaku menghindar dari amukan massa lalu menyerahkan diri ke kantor polisi. Pelaku tabrak lari menjadi sosok yang tak bernurani.
tabrak lari smt 1 2015

Tak heran jika perundangan kita memberi sanksi berat bagi pelaku tabrak lari. Lihat saja pasal 312 Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Di pasal itu ditegaskan bahwa pelaku tabrak lari bisa dipidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

Pasal itu membidik pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat tanpa alasan. Sekali lagi, tanpa alasan. Berbeda dengan misalnya, menghindar dari amukan massa sehingga melarikan diri ke kantor polisi terdekat.

Betul bahwa nyaris tak ada pengguna jalan yang ingin terjebak dalam insiden kecelakaan. Kita semua tahu bahwa kecelakaan berdampak luas dan senantiasa menyakitkan bagi korban maupun keluarga korban. Hal penting yang bisa kita lakukan adalah berkendara seaman dan sebenar mungkin. Manakala terpaksa menjadi pelaku kecelakaan, sudilah Anda menolong sang korban. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 18 Oktober 2015 12:16

    Kalau.Yang.Menabrak.Dapat.Di.Tangkap.Boleh.Saja..Dihakimi..Masa..Biar..Tidak.Terjadi..Lagi..Tabrak..Lari..Semoga..Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: