Skip to content

Kisah Lampu Hazard yang Bikin Sewot

17 Oktober 2015

lampu kendaraan berkabut

SIANG itu menjadi hari yang benar-benar menguji rasa sabar. Bagaimana tidak, dalam waktu tak tidak lebih dari satu jam, berpapasan dengan kelakuan ugal-ugalan ala penguasa jalanan.

Panasnya terik Jakarta menjadi kian berkobar. Pesepeda motor di depan saya benar-benar tak bisa menahan rasa sabarnya. “Kalau mau belok yang benar dong. Masa nyalain lampu dua-duanya,” bentak seorang pria kepada pengemudi light truck yang tiba-tiba berbelok dari arah depan kami.

Pesepeda motor yang memboncengi seorang perempuan itu nyaris terserempet oleh sang truk. Dari belakangan pesepeda motor tadi saya melihat truk menyalakan lampu hazard, yakni lampu seinnya menyala dua-duanya. Kondisi demikian membingungkan, apakah mobil hendak berbelok ke kiri atau ke kanan. Dalam kejadian itu sang mobil faktanya berbelok ke kanan, tapi lampu seinnya menyala dua-duanya, kiri dan kanan.

Bagi saya, wajar sang pesepeda motor tadi ngedumel dan sewot atas ulah sang pengemudi truk. Saya lihat sang perempuan yang diboncengin menenangkan sang pesepeda motor. Dari gerak tubuhnya, sang perempuan tadi menepuk-nepuk pundak sang pesepeda motor.

Di bagian lain sudut jalan Jakarta, hari itu saya menemui kejadian serupa. Kali ini, di jalan raya di tengah kota sebuah mobil low multi purpose vehicle (MPV) sekonyong-konyong berbelok ke kiri, namun menyalakan lampu hazard. Entah apa yang ada di benak sang pengemudi mobil itu. Pastinya, ulah dia membuat sewot dua pesepeda motor yang nyaris mencium body mobil.

Serupa dengan peristiwa pertama, sumpah serapah pun meluncur dari mulut sang pesepeda motor. Caci maki menjadi cara menumpahkan kekesalan. Tidak ada gesekan fisik.

Lampu hazard seyogyanya digunakan saat kondisi darurat. Lampu sein yang menyala kanan dan kiri secara bersamaan bermanfaat untuk memberitahu pengguna jalan lain tentang kondisi darurat. Misal, mobil yang mengalami mogok lalu berhenti di pinggir jalan, lazimnya menyalakan lampu hazard.

Kendaraan petugas seperti kepolisian dan TNI yang sedang menjalankan tugas termasuk yang bisa memanfaatkan lampu hazard dalam membantu tugasnya. Artinya, penggunaana lampu hazard untuk hal-hal yang darurat dan benar-benar penting.

Bila sebatas untuk menunjukkan adanya iring-iringan kendaraan yang mau kondangan pernikahan, rasanya patut dipertanyakan. Bukan apa-apa, lampu hazard membingungkan pengguna jalan yang lainnya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: