Skip to content

Drama Satu Babak di Sudut Pancoran

15 Oktober 2015

helm boncengan

SUASANA malam di perempatan Pancoran, Jakarta Selatan agak berbeda. Riuh rendah suara klakson bersahutan dengan suara knalpot dan mesin kendaraan bermotor. Bising.

Kendaraan bermotor menumpuk, khususnya yang mengarah ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sepeda motor dan mobil tumpah ruah. Sebagian dari mereka posisinya sudah melampaui tiang lampu merah seraya membunyikan klakson. Belakangan saya baru tahu jeritan klakson tadi untuk memperingatkan sepasang muda-mudi yang menerobos lampu merah. Saat itu, posisi sang penerobos tadi terperangkap di dalam arus kendaraan yang mengarah ke Pasar Minggu.

Pesepeda motor itu datang dari arah Cawang, Jakarta Timur menuju Kuningan, Jakarta Selatan. Sepintas saya lihat yang mengendarai adalah pria muda, sedangkan yang dibonceng adalah perempuan muda. Ironisnya, kedua anak muda itu sama-sama tidak memakai helm.

Lengkap sudah, menerobos lampu merah dan tidak memakai helm. Entah apa yang ada di benak anak muda itu.

Oh ya perempatan Pancoran merupakan salah satu pintu masuk dan keluar Jakarta. Disinilah pertemuan mereka yang datang dari arah pinggiran, Bekasi, Depok, dan Bogor. Praktis, ribuan, bahkan lebih kendaraan bermotor tumpah ruah setiap harinya.

* * *

Hampir bisa dibilang semua pengguna jalan tahu arti warna merah di lampu pengatur lalu lintas. Merah artinya berhenti, hijau jalan. Sedangkan kuning bermakna hati-hati.

Begitu juga soal helm, banyak di masyarakat kita yang tahu benda itu fungsinya mengurangi risiko. Bilamana sang pesepeda motor terjebak dalam insiden di jalan, helm bertugas mengurangi efek lebih buruk dari benturan. Di sisi lain, helm yang berpelindung wajah bermanfaat mengurangi serbuan polusi udara.

Oh ya, soal lampu merah dan pemakaian helm diatur dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Lazimnya aturan, ada sanksi yang mengintai. Menerobos lampu merah bisa kena sanksi penjara maksimal dua bulan, atau denda maksmal Rp 500 ribu. Sedangkan tidak memakai helm penjara maksimal satu bulan, atau denda maksimal Rp 250 ribu.
Tapi, kenapa dilanggar? Kenapa mengabaikan keselamatan saat berkendara?
Mungkinkah karena belum merasa dirugikan atas pelanggaran yang dilakukannya? Entahlah. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: