Skip to content

Wajah Lain “Kekerasan” Pada Anak

6 Oktober 2015

anak bawah umur_pesan safety

WAJAH pria itu tak bisa menyembunyikan kegeramannya. Nada bicaranya meninggi. Malam itu sang pria yang dikenal gigih melindungi hak-hak anak ini mengulas kekerasan yang menimpa bocah perempuan berusia sembilan tahun.

“Jakarta tak ramah buat anak-anak. Tindakan kepada anak perempuan ini amat biadab,” tukas Arist Merdeka Sirait, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak dalam siaran di TV One, Minggu, 4 Oktober 2015 malam.

Malam itu TV One mengulas kekerasan terhadap bocah PNF yang kedapatan meninggal dunia. Di tubuhnya terdapat sejumlah luka-luka. Tak hanya itu, tubuh sang bocah ditempatkan dalam sebuah kardus.

Peristiwa itu sontak menyedot perhatian publik. Tragedi tersebut mengoyak-ngoyak hati nurani masyarakat. Dan, amat masuk akal jika Arist Merdeka Sirait merasa geram. Dia bahkan meminta Ibu Negara turun tangan.

Kekerasan demi kekerasan menimpa anak-anak Indonesia. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat terjadi 21,6 juta kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2010-2014. Data itu diambil dari 179 kota dan kabupaten di 34 provinsi di Indonesia.

Menurut Arist Merdeka Sirait, sekitar 58% atau 12,5 juta kasus merupakan kekerasan seksual terhadap anak.”Jakarta paling tinggi tingkat kekerasan seksual terhadap anak,” kata dia kepada Tempo, Jumat, 7 Agustus 2015.

Ya. Kasus kekerasan yang menimpa anak-anak jumlahnya cukup banyak. Tak jarang kekerasan hadir dari orang dekat di sekitar anak. Kita tak bisa diam berpangku tangan.

* * *

Di sudut lain “kekerasan” terhadap anak-anak punya wajah berbeda. Sadar atau tidak, kita menyodorkan peluang terjadinya “kekerasan” kepada anak-anak di bawah umur lewat tragedi bernama kecelakaan lalu lintas jalan. Para orang tua atau orang dewasa seakan membiarkan “kekerasan” untuk datang menjemput para anak-anak.

Entah dengan mengizinkan anak-anak di bawah umur untuk mengemudi kendaraan bermotor. Atau, menempatkan sang anak dalam posisi menanggung risiko tinggi saat berkendara. Baik itu di sepeda motor, mobil, bahkan saat naik angkutan umum.

Data Korlantas Polri memperlihatkan bahwa angka korban kecelakaan dari kalangan anak di bawah umur masih cukup banyak. Dalam rentang 2010-2015, jumlah anak-anak usia 0-15 tahun yang menjadi korban kecelakaan di jalan mencapai sekitar 176 ribu. Mereka ada yang menderita luka ringan, luka berat, hingga meninggal dunia.

Merujuk data tersebut, terlihat bahwa komposisi anak-anak yang menjadi korban kecelakaan adalah mencapai sekitar 18% dari total korban. Data itu juga memperlihatkan bahwa setiap hari rerata ada sekitar 85 anak yang menjadi korban kecelakaan di jalan.

Oh ya, data tahun 2015 masih memakai periode hingga semester pertama.

Kita para orang tua dituntut lebih peka akan keselamatan anak-anak. Memberi izin anak di bawah umur untuk berkendara di jalan raya amat berisiko. Bila kita terus bersikap permisif, itulah yang saya maksud memberi peluang terjadinya “kekerasan” kepada anak-anak kita di jalan raya. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 11 Oktober 2015 22:26

    Reblogged this on Suetoclub's Blog and commented:
    waspada rek kekerasan anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: