Skip to content

Pengirim Paket Dikirim ke Balik Jeruji

2 Oktober 2015

tol cikapali laka 2015_merdekacom

MENJADI pengirim paket atau barang kiriman tak semudah yang dibayangkan orang. Banyak tantangan yang harus dilalui bagi seorang pengemudi ketika berjibaku di jalan raya. Musuh paling besar ada di dalam diri sendiri.

Kisah yang dialami, Budiaman, kita sebut saja begitu menjadi salah satu contoh. Alih-alih hendak mengirim paket, justeru dia dikirim ke balik jeruji. Semua berawal dari keblingsatannya Budiaman mengendalikan mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi.

“Mobil yang dikemudikan penabrak melaju kencang dan tidak terlihat ada upaya pengereman,” seloroh seorang saksi tabrakan maut yang menempatkan Budiaman sebagai terdakwa.

Awalnya, Budiaman melaju dengan mobil untuk menuju kota tujuan. Malam itu dia bertugas untuk mengirim paket barang ke kota Bandung, Jawa Barat. Cuaca cerah dan lalu lintas ramai lancar. Lampu jalan juga cukup terang. Jadilah Budiaman melaju dengan kecepatan tergolong tinggi. Ironisnya, lampu mobil Budiaman menyala tidak terlalu terang alias redup hingga akhirnya. Brak!!!

“Rem mobil saya tidak pakem,” urainya.

Dia menabrak sebuah sepeda motor dari belakang. Bember mobilnya menabrak ban belakang sepeda motor. Buntutnya, sang pengendara motor mengalami luka-luka, sedangkan penumpang yang diboncengnya meninggal dunia.

Bukannya berhenti untuk menolong korban, Budiaman justeru tancap gas. Entah apa yang ada di benaknya. “Padahal saya sudah mengingatkan untuk berhenti,” kata saksi lain yang saat kejadian duduk di samping Budiaman.

Truk Budiaman terus melaju, bahkan sampai nekat mengabaikan petugas pintu lintasan kereta api. Sejumlah orang coba mengejar dan akhirnya petugas kepolisian mampu menangkap sang pelaku kecelakaan tersebut. Dia tertangkap sekitar enam kilometer dari lokasi kejadian.

Jadilah dia dibidik dua pasal sekaligus. Pertama, pasal 310 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dan, kedua pasal 312 di UU yang sama terkait dengan upaya melarikan diri dari kasus kecelakaan.

Sekalipun mengaku menyesal dan berdamai dengan keluarga korban, serta memberikan sejumlah uang sebagai santunan, kasus Budiaman terus bergulir di meja hijau. Sekitar enam bulan dari tanggal terjadinya kecelakaan, dia divonis satu setengah tahun penjara dipotong masa tahanan.

Vonis itu jauh lebih ringan dibandingkan dengan ancaman yang ada di pasal 310 dan 312. Sekadar menyegarkan ingatan kita, ancaman huukum di pasal 310 adalah penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta. Sedangkan pasal 312 menyebutkan bahwa pelaku tabrak lari bisa dipidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta. (edo rusyanto)

foto:merdeka.com

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 2 Oktober 2015 08:54

    Kadang iming-iming paket kilat, ataupun Makanan delivery….

    Justru mengabaikan keselamatan pengendaranya… Bahkan pengguna jalan lain .

    Lah…ga jarang kok saya lagi jalan asik2… Dipotong deliveryman…
    WUS…….wus….
    Padahal bawa box makanan dibelakang..

    Elus Dada aja deh Om

  2. Dian Mas Putra permalink
    2 Oktober 2015 09:41

    kelalaian yg mengakibatkan orang meninggal dunia, dan berusaha melarikan diri cuma dihukum 1 setengah tahun?
    wah mantap…
    pantesan banyak driver2 goblok asal ngebut… lha kalo nabrak cuman dihukum ringan gitu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: