Skip to content

Kecelakaan Akibat Menelepon Melonjak 124%

30 September 2015

menelepon sopir mobil

KEJADIAN ini sekitar dua bulan lalu. Di tengah ramainya arus kendaraan di sudut Jakarta Selatan terjadi pertengkaran kecil antar pesepeda motor. Adu mulut, tapi tanpa gesekan fisik.

Dari jarak sekitar lima meter saya menyaksikan gelagat tidak baik. Sepeda motor yang di depan saya tampak jalan melambat di jalur kiri. Kami berada di kiri, yakni ruang yang tersisa karena sebelah kanannya diisi antrean mobil. Sepeda motor yang melambat tadi tiba-tiba mencium sepeda motor di depannya. Usut punya usut, sang penabrak sesaat sebelum kejadian sedang asyik berponsel ria. Pandangannya tertuju pada layar ponsel. Entah apa yang sedang dilihat.

“Kalau naek motor liat-liat dong. Jangan sambil maen telepon,” sergah perempuan muda yang kuda besinya disundul sang pria muda, di Jakarta, suatu siang.

“Maaf mbak, nggak sengaja,” jawab sang pria yang tadi kedapatan tengah berponsel.

Tak ada dialog lain. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan masing-masing. Saya yang tadi ada di belakang mereka pun meneruskan perjalanan ke tempat tujuan.

* * *

Kecelakaan yang dipicu oleh aktifitas berponsel, khususnya sambil menelepon ternyata melonjak drastis. Data Korlantas Polri memperlihatkan, pada semester pertama 2015, lonjakan kasus itu mencapai sekitar 124% bila dibandingkan dengan periode sama 2014.

Sepanjang enam bulan pertama 2015, kasus kecelakaan yang dipicu oleh aktifitas menelepon tercatat sekitar 130 kejadian. Kecelakaan jenis ini oleh Korlantas Polri dikelompokkan ke dalam faktor teknologi. Ada sejumlah aspek di dalam faktor teknologi. Dari beragam aspek itu aktifitas menelepon menempati posisi kedua terbesar, yakni 37,57%

Aspek paling besar adalah aktifitas menerima telepon, yaitu 39,31%. Namun, dari segi tren, kecelakaan yang dipicu menerima telepon menurun sekitar 21% menjadi 136 kasus.

Kembali soal aktifitas menelepon. Entah gejala apa, angka lonjakan serupa juga sempat tercatat pada semester pertama 2014. Saat itu, lonjakannya mencapai sekitar 32% menjadi 58 kasus.

Sementara itu, aktifitas mengirim SMS menjadi kontributor ketiga terbesar di faktor teknologi, yakni 18,21%. Berbanding terbalik dengan menelepon, aktifitas mengirim SMS anjlok sekitar 38% pada semester pertama 2015.

Oh ya, faktor teknologi tercatat menyumbang sekitar 1% dari total kasus kecelakaan yang terjadi sepanjang enam bulan pertama 2015. (edo rusyanto)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: