Skip to content

Orang Tua Anjurkan Pemakaian Kendaraan Pribadi

29 September 2015

IMG-20150911-05211

TAK perlu heran banyak remaja dan anak-anak di bawah umur yang memakai kendaraan pribadi saat menuju sekolah. Sekalipun, saat ini ada surat edaran dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta tentang larangan siswa membawa kendaraan bermotor ke sekolah.

Sebanyak 29,03% dari siswa yang membawa kendaraan bermotor ke sekolah ternyata atas anjuran orang tua. Jawaban itu mencuat dari mereka yang mengendarai sepeda motor dan mobil ketika pergi ke sekolah dan saat pulang dari sekolah. Tentu itu semua pasti ada alasan yang melatarbelakanginya.

Jawaban atas anjuran orang tua adalah jawaban ketiga terbesar. Alasan utama adalah karena menggunakan kendaraan pribadi cenderung lebih murah atau hemat, yakni 38,71%. Lalu, jawaban kedua terbesar adalah karena keinginan siswa sendiri (30,65%). Sedangkan yang mengaku karena ikut-ikutan teman hanya 1,61%.

Siswa yang memilih menggunakan kendaraan pribadi ternyata punya alasan untuk tidak memakai angkutan umum. Mereka menilai bahwa memakai angkutan umum untuk menuju ke sekolah lebih banyak memakan waktu. Perjalanan menuju sekolah menjadi lama (39,34%).

Lalu, ada yang menilai bahwa angkutan umum tidak nyaman (36,07%). Bahkan, ada yang menilai angkutan umum cenderung lebih mahal, waktunya lebih lama, dan sekaligus tidak nyaman (13,11%). Sebagian kecil dari siswa menganggap angkutan umum biayanya lebih mahal dibandingkan kendaraan pribadi (11,48%).

Pemerintah punya kewajiban mewujudkan angkutan umum massal agar mobilitas warganya lebih nyaman. Ketika transportasi publik tak memadai, warga negara mencari solusi sendiri. Pilihan jatuh pada kendaraan pribadi. Semoga Negara tak tinggal diam. Sudi terus berbenah dan mewujudkan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, ramah lingkungan, dan terintegrasi.

Jangan biarkan warga, khususnya anak di bawah umur dan remaja memikul risiko sendiri. Ketika mereka menunggang kendaraan pribadi bukan tanpa risiko. Sebut saja misalnya, ketika mengendarai sepeda motor, praktis memikul risiko melanggar perundangan yang berlaku. Maklum, perundangan mewajibkan para pengendara wajib memiliki surat izin mengemudi (SIM). Padahal, kita tahu bahwa anak di bawah umur belum memenuhi persyaratan usia paling rendah, yakni usia 17 tahun untuk mendapatkan SIM C, yakni SIM untuk pengendara sepeda motor.

Dari survey kecil-kecilan saya terhadap siswa SLTA di Jakarta terlihat bahwa sekitar 28% dari mereka pernah ditilang. Dan, mayoritas alasan ditilangnya adalah karena tidak punya SIM (61,54%).

Pandangan-pandangan siswa di dalam artikel ini hasil tabulasi atas pertanyaan saya kepada para siswa. Baru-baru ini di Jakarta saya menanyai 73 siswa SLTA dari lima wilayah di Jakarta. Pandangan mereka hanya sebagian kecil dari potret sesungguhnya apa yang terjadi di masyarakat kita. (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 29 September 2015 21:25

    Wah bagus itu, biar anak tidak tersesat nantinya! Lanjutkan…. untuk generasi muda yang lebih baik

  2. 30 September 2015 11:05

    sepertinya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum semakin lama semakin menurun saja..

    ditambah lagi kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin melebar saja, si kaya nggak mau gabung satu angkutan sama si miskin.. pffftt..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: