Skip to content

Ini Alasan Pelajar Tidak Memakai Helm

25 September 2015
Motorola RAZRV3x 85.98.90R 2009:03:17 11:46:22

Motorola
RAZRV3x
85.98.90R
2009:03:17 11:46:22

TULISAN ini berangkat dari survey kecil-kecilan kepada puluhan pelajar setingkat SLTA di Jakarta. Saya lontarkan sejumlah pertanyaan tertulis terkait pemakaian helm pelindung kepala saat bersepeda motor. Mau tahu jawabannya?

Ketika saya sodorkan pertanyaan, “Apakah kamu memakai helm saat bersepeda motor?” ternyata menghasilkan dua kelompok pelajar. Kelompok pertama mengaku selalu memakai helm saat bersepeda motor, yakni 54,84%. Sedangkan kelompok kedua menjawab tidakselalu, yaitu 45,16%.

Sedangkan untuk pertanyaan, “Apa alasan memakai helm?” hampir semua responden menjawab demi keselamatan, yakni 90,32%. Jawaban lain jumlahnya sama-sama 4,84%, yakni memakai helm agar tidak ditilang. Dan, memakai helm karena saran dari orang tua.

Saya juga lemparkan tanyakan, “Apa alasan tidak memakai helm saat bersepeda motor?”

Nah, untuk yang ini jawabannya cukup mengagetkan saya. Mayoritas menjawab malas untuk memakai helm (44,68%). Alasan kedua terbesar adalah panas kalau memakai helm (29,79%). Lalu, alasan ketiga terbesar karena tidak punya helm (14,89%). Sedangkan alasan karena tidak ditilang menjadi jawaban keempat, yakni 10,64%.

Padahal, Ditlantas Polda Metro Jaya mengaku terus menindak soal pelanggaran tidak memakai helm. Data Polda memperlihatkan, pada 2014, Kepolisian menindak 80.386 pelanggaran tidak memakai, sedangkan hingga Agustus 2015, sudah menindak 67.745 kasus.

Tentu saja kalau melihat jumlah pesepeda motor yang wira-wiri di Jakarta, angka itu relatif masih kecil. Bagaimana tidak,setidaknya sata ini ada sekitar 13,5 juta sepeda motor yang tercatat di wilayah Polda Metro Jaya. Seandainya yang keluar separuhnya saja, berarti tak kurang dari 6,75 juta motor. Lantas, kalau seperempatnya saja yang keluar maka ada sekitar 3,4 juta motor. Bahkan, kalaupun yang keluar adalah seperdelapannya saja tak kurang dari 1,7 juta motor yang wira-wiri. Banyak kan motor di Jakarta dan sekitarnya?

Fungsi Helm

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa luka kepala dan cedera leher merupakan penyebab utama dari kecacatan dan kematian pesepeda motor yang terlibat kecelakaan di jalan.

Di Eropa, cedera kepala berkontribusi sekitar75% terhadap kematian para pesepeda motor. Sedangkan di negara-negara tertinggal dan berkembang, diperkirakan hingga 88%.

Mayoritas pelajar menjawab malas untuk memakai helm (44,68%). Alasan kedua terbesar adalah panas kalau memakai helm (29,79%).

Ya. Helm bagi pesepeda motor bermanfaat untuk mengurangi risiko saat bersepeda motor. Memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Data itu saya kutip dari laporan WHO yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’.

Dalam laporan itu disebutkan, saat ini, setidaknya sebanyak 90 negara yang mencakup 77% populasi dunia, memiliki regulasi terkait helm bagi pemotor, termasuk bagi para pebalap. Salah satunya adalah Indonesia.

Negara kita mengatur soal helm dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam UU sebelumnya, yakni UU No 14 tahun 1992 tentang LLAJ, soal helm juga sudah diatur. Bedanya, jika dalam UU tahun 1992 sanksi denda bagi pemotor yang tidak memakai helm didenda Rp 1 juta, kini dalam UU 22/2009 denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Bedanya yang lain adalah, UU 22/2009 mewajibkan pengendara dan penumpang sama-sama pakai helm dengan standar nasional Indonesia (SNI). Helm yang dimaksud memiliki dua jenis, yakni pertama helm menutup seluruh wajah (full face). Jenis kedua adalah helm yang bagian mukanya terbuka (open face).

Nah, sekalipun ada aturan dengan sanksi cukup berat, dendanya gede loh, tetap saja ada yang tidak memakai helm. Ada beberapa alasan yang saya temui. Mulai dari alasan tidak punya helm, hanya bermotor jarak dekat, hingga tidak ada yang menilang.

Oh ya, pelajar yang saya tanya baru-baru ini di Jakarta itu jumlahnya 65 orang. Mereka berasal dari lima wilayah di Jakarta, yakni Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat. Mereka adalah para pelajar pelopor keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 25 September 2015 02:24

    sering di sepelekan,….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: