Skip to content

Drama Satu Babak Tanah Abang-Kuningan

24 September 2015

kemacetan jakarta 2015

JARUM jam menunjukan pukul 17.10 WIB. Matahari sudah mulai redup. Tapi, jalan raya Jakarta justeru kian sumringah. Kendaraan bermotor berjejal ria.

Sore itu rute yang harus saya lalui adalah Tanah Abang, Jakarta Pusat menuju Kuningan, Jakarta Selatan. Ya, jalur antar kota dalam provinsi (AKDP). Secara teknis, jarak tempuh sekitar 7,1 kilometer (km). Tapi, jangan bayangkan soal urusan waktu tempuh. Mau tahu? Dua jam. Ya, sekitar dua jam itupun dengan menggunakan sepeda motor.

Persisnya jalur yan ditelusuri adalah Jl Taman Jatibaru 1, yakni gedung Dinas Perhubungan DKI Jakarta lalu via Jl KH Mas Mansyur dan Jl Prof Satrio hingga ke Jl Denpasar. Buat yang tinggal di Jakarta, bisa kebayangkan bagaimana dramatisnya jalur tersebut pada sore hari.

Jalan raya yang saya lewati seperti tidak mampu menampung jumlah kendaraan bermotor yang melintas. Jadilah sepeda motor meluber ke trotoar jalan seperti di Jl Satrio dekat Mal Ambassador. Bahkan, ketika memasuki Jl KH Mas Mansyur setelah turun dari fly over di dekat TPU Karet, sepeda motor meluber hingga melawan arus. Banyak yang tidak sabar mengikuti antrean kendaraan yang menggila.

“Gile tuh motor, nekat banget ngelawan arus,” seloroh seorang perempuan muda penumpang sepeda motor, Selasa, 22 September 2015 sore.

Dia berbincang dengan sang pengendara motor yang dari tampilannya pria berusia 30 tahunan. Kendaraan sepeda motor bebek yang ditumpangi mereka berhimpitan nyaris hanya berjarak sejengkal dengan tiap kendaraan lainnya. Posisi mereka persis disamping saya. Kepenatan sudah terasa luar biasa. Panas, debu, asap knalpot, hingga suaran knalpot riuh rendah.

Nah, pesepeda motor yang melawan arus yang kami saksikan bersama tidak tanggung-tanggung. Mereka harus melintasi sepator jalan yang tingginya lumayan, nyaris sejengkal tangan dewasa. Jadilah mereka menggotong bagian depan lalu melompat ke jalur yan berlawanan. Praktis, aksi itu membuat kendaraan yang datang dari arah sewajarnya sibuk membunyikan klakson agar tidak terjadi tabrakan. Jadilah suara klakson motor dan mobil berbaur sembari sang penglakson. Maklum, dari arah berlawanan arus kendaraannya relatif ramai lancar.

Memasuki Jl Satrio aksi jarah menjarah trotoar pun mulai terlihat. Kesabaran pengguna jalan benar-benar diuji. Total waktu yang saya butuhkan untuk menempuh jarak sekitar 7,1 kilometer adalah sekitar 120 menit. Edan kan?

kecepatan pergerakan di jakarta

Kalau dipikir-pikir hasil survey JUTPI tahun 2011 amat relevan. Survey itu bilang, pada 2011, pada pagi hari, yakni jam sibuk laju kendaraan kian melambat. JUTPI membeberkan waktu tempuh yang dibutuhkan untuk rute Cilandak, Jakarta Selatan ke Monas, Jakarta pusat kecepatan kendaraan rata-rata 9,4 kilometer per jam (kpj). Padahal, pada tahun 2000 kecepatan rata-rata masih bertengger di 19,2 kpj. Jangan tanya jika dibandingkan dengan tahun 1985 yang masih mampu melaju 24,7 kpj.

Mau contoh yang lebih ekstrim?

Untuk jalur Pasar Minggu ke Manggarai yang sama-sama di Jakarta Selatan, kecepatan rata-rata kendaraan hanya 6,1 kpj pada 2011. Padahal, pada 1985 masih mampu melaju 26,3 kpj.

Ya, jumlah kendaraan bermotor terus bertambah di Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan jumlah jalan di Jakarta bertumbuh dengan amat lambat, yakni sekitar 0,01% per tahun. Sedangkan pertumbuhan kendaraan bermotor menyentuh angka 11,26% per tahun. Di sisi lain, kebutuhan per jalanan di DKI Jakarta mencapai 20,7 juta orang per hari. Jadilah jalan raya penuh sesak dengan kendaraan bermotor. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: