Skip to content

Anda Perlu Mengenali Tiga Pemicu Kecelakaan Terbanyak Ini

16 September 2015

bus laka semarang 2015_viva

Ada pepatah yang bilang, ‘tak kenal maka tak sayang.’ Maknanya, semakin mengenali seseorang, boleh jadi kian menyukai dan menyayangi yang bersangkutan.

Kalau untuk urusan di jalan raya, pepatah itu bisa bermakna luas. Namun, bila diringkas mengerucut pada, ‘kenali risiko berkendara, Anda bisa mengurangi fatalitas kecelakaan.’

Nah, risiko berkendara di jalan raya ada dua, yakni ditabrak atau menabrak. Siapapun bisa terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Perbedaannya, ada yang mampu memperkecil risiko dan ada yang tidak sempat memperkecil risiko yang ada. Kelompok yang tidak sempat memperkecil risiko barangkali karena tidak mengetahui apa yang menjadi pemicu terjadinya kecelakaan di jalan.

Tahukah Anda bahwa ada tiga pemicu utama kecelakaan di Indonesia? Mari kita kenali.

Pertama, berkendara tidak tertib.

Tidak tertib alias melanggar aturan di jalan kerap disebut juga dengan kelakuan ugal-ugalan di jalan. Misal, menerobos lampu merah. Mayoritas pengendara tahu bahwa ketika lampu pengatur lalu lintas berwarna merah artinya berhenti, namun ada sejumlah orang yang nekat menerobosnya. Ada sejumlah alasan yang mencuat sebagai dalih kelakuan tersebut. Alasan paling sering adalah, terburu-buru, tidak ada yang menindak, dan ikut-ikutan. Rasanya ketiga alasan itu masih berupa kamulflase.

Perilaku tidak tertib menjadi pemicu kecelakaan terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 40,80%. Setiap hari terjadi rata-rata 100 kasus kecelakaan yang dipicu perilaku tidak tertib.

Kedua, lengah saat berkendara.

Nah, pemicu kedua kecelaaan di Indonesia adalah lengah saat berkendara. Perhatian pengendara yang teralihkan oleh sesuatu, misalnya, obyek bergerak atau tidak bergerak, bisa merusak konsentrasi. Buntut-buntutnya, menimbulkan kecelakaan di jalan.

Banyak diantara kita yang tahu bahwa berkendara adalah pekerjaan penuh waktu, tidak bisa disambi. Artinya, butuh konsentrasi penuh. Lengah sekejap saja bisa fatal.

Sebenarnya bekal untuk berkonsentrasi saat berkendara sangat mendasar, yakni senantiasa fokus dan waspada.

Aspek lengah menyumbang sekitar 29,90% terhadap total kasus kecelakaan di Indonesia. Aspek ini menyebabkan sekitar 74 kasus kecelakaan per hari.

Ketiga, melampaui batas kecepatan.

Melampaui batas kecepatan alias ngebut adalah aspek ketiga terbesar yang memicu kecelakaan. Di Indonesia, setiap hari rata-rata ada 32 kasus kecelakaan yang dipicu aspek ngebut. Kontribusi aspek ini terhadap total kecelakaan di Indonesia mencapai sekitar 13,19%.

Ketika ngebut di jalan raya umumnya pengendara tak mampu mengantisipasi situasi yang ada. Misal, munculnya obyek bergerak atau tidak bergerak secara tiba-tiba. Atau, kesulitan mengendalikan kendaraan atau tak mampu melakukan pengereman yang maksimal. Praktis kondisi itu memperbesar celah untuk terjadinya kecelakaan di jalan.

Di Indonesia, setiap hari rata-rata ada 32 kasus kecelakaan yang dipicu aspek ngebut. Kontribusi aspek ini terhadap total kecelakaan di Indonesia mencapai sekitar 13,19%.

Saking berisikonya ngebut di jalan raya, menurut adan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’ menyebutkan bahwa pejalan kaki dan pesepeda menjadi kelompok paling berisiko cedera akibat pola berkendara berkecepatan tinggi. Tiap hari, rata-rata 747 pejalan kaki tewas atau 31 orang per jam. Sedangkan pesepeda yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di dunia, tiap hari sebanyak 169 jiwa. WHO menyebutkan kecelakaan lalu lintas jalan merenggut sekitar 1,24 juta jiwa di dunia.

Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki aturan mengenai batas kecepatan. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan tegas mengatur soal ini. Lalu, di tingkat teknis ada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 11 tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan. Menteri Perhubungan Ignatius Jonan menandatangani aturan tersebut pada 29 Juli 2015 Permenhub ini mengatur lebih rinci apa yang tertuang di dalam PP No 79 tahun 2013.

Contohnya, kecepatan paling tinggi untuk kendaraan bermotor, yakni roda empat atau lebih adalah 80 kpj, sedangkan untuk sepeda motor 60 kpj. Aturan ini untuk jalan arteri primer yang memiliki jalur cepat dan jalur lambat terpisah.
Contoh lain adalah, pada jalur lambat di kawasan dengan kegiatan yang padat, kecepatan paling tinggi adalah 30 kpj. Sedangkan di kawasan kegiatan yang tidak padat adalah 50 kpj.

Setelah kita mengenali risiko dan pemicu utama kecelakaan di jalan raya, langkah selanjutnya adalah bagaimana kita menyikapinya. Sederhana saja, senantiasa fokus dan waspada ketika berkendara.

Oh ya, data-data kecelakaan di atas saya kutip dari Korlantas Polri untuk periode semester pertama 2014. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: