Skip to content

Kisah Pengemudi Bus Malang

15 September 2015

bus dan kursi dalam

UNTUNG tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pepatah itu pernah kita dengar ketika seseorang tertimpa naas. Kejadian yang dialami, Supri, kita sapa saja begitu, nyaris bak pepatah tersebut.

Suatu siang yang cerah di jalan yang tidak terlalu ramai, dia baru saja menurunkan penumpang. Bus pun bergerak perlahan berkisar 10-20 kilometer per jam (kpj). Di dalam bus hanya tersisa beberapa penumpang, termasuk sang kondektur.

Tiba-tiba, dia dikejutkan oleh teriakan dari arah depan bus. Seorang perempuan tergeletak. Ada luka di sekujur tubuh akibat tertabrak bemper bus. Ternyata, perempuan tadi adalah sang penumpang yang baru saja turun dan langsung hendak menyeberang jalan. Sekuat tenaga Supri mencoba menolong termasuk membawa sang korban ke rumah sakit. Perempuan tadi meninggal akhirnya meninggal dunia.

Kisah pun bergeser ke ranah meja hijau. Dari waktu ke waktu Supri mencari keadilan, walau tanpa didampingi penasihat hukum. Di bagian lain, keluarganya menyambangi keluarga sang korban. Selain menyampaikan rasa duka, sejumlah santunan dan rasa penyesalan pun diutarakan. Keluarga sang korban menerima permintaan maaf tulus dan rasa duka mendalam. Perdamaian dicapai.

“Kami pilih berdamai dan kami anggap sebagai musibah,” tutur sang keluarga korban.

Tapi, pengadilan bercerita lain. Perjalanan mencari keadilan atas tuntutan tujuh bulan penjara harus dilalui oleh Supri. Sambil mengikuti sidang demi sidang, pria berusia hampir lima puluh tahun itu harus mendekam di balik jeruji besi hingga akhirnya majelis hakim memutuskan lebih rendah dari tuntutan jaksa. Supri divonis empat bulan penjara karena dianggap melanggar pasal 310 ayat 4 dari Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Oh ya, pasal 310 ayat 4 menyebutkan bahwa pengemudi yang lalai kemudian menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia bakal diganjar penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Kisah ini memberi pembelajaran berharga bagi kita para penumpang bus agar ekstra waspada. Manakala hendak menyeberang jalan seusai turun dari bus tak bisa serta merta, apalagi dari depan bus.

Sebaliknya, bagi para pengemudi bus tak bisa lalai begitu saja seusai menurunkan penumpang. Mengemudi adalah pekerjaan penuh waktu alias butuh konsentrasi penuh. Lengah sedikit saja bisa fatal akibatnya. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: