Skip to content

Kisah Rasa Kantuk yang Memilukan

7 September 2015

laka akibat mengantuk tol_viva

HARI memasuki pagi, sebentar lagi matahari muncul di ufuk timur. Di salah satu sudut jalan tampak Kinanto, kita sebut saja begitu, tetap melaju di belakang setir mobil. Dia melaju dengan kecepatan berkisar 60-70 kilometer per jam (kpj). Hari itu dia menempuh perjalanan sekitar 491 kilometer dari Yogyakarta menuju Sumenep, Madura.

“Saya sudah lelah dan mengantuk,” sergahnya di hadapan pengadilan yang menyidangkan kasus kecelakaan yang merenggut satu korban jiwa.

Dalam kondisi seperti itu dia mengaku tak berkonsentrasi mengemudi. Padahal, salah satu penumpang di mobil yang dikemudikannya sempat ada yang memberi tahu bahwa di depan mobilnya ada pesepeda kayuh yang sedang melaju.

Apa daya, konsentrasi yang menurun membuatnya tak mampu memperhatikan kondisi sekitar secara maksimal. Dan, Kinanto baru menyadari ada pesepeda ketika jarak mobil dengan sepeda kayuh itu sudah tak lebih dari dua meter. Akibatnya, brak!!

Kecelakaan lalu lintas jalan itu berbuntut panjang. Kinanto harus menjalani proses pencaharian keadilan di depan majelis hakim. Di sisi lain, keluarganya pun meminta maaf kepada keluarga korban sekaligus memberi santunan. Belakangan, tindakan yang dilakukan keluarganya itu ikut meringankan vonis yang dijatuhkan sang hakim.

Oleh majelis hakim Kinanto dibidik oleh Pasal 310 ayat (1) dan (4) UU No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam vonisnya, majelis hakim memutuskan penjara kurungan selama dua bulan dan 21 hari bagi pria tersebut.

Oh ya, pasal 310 ayat 4 menyebutkan bahwa pengemudi yang lalai kemudian menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia bakal diganjar penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Dalam UU yang sama ditegaskan bahwa seluruh pengemudi diwajibkan untuk senantiasa berkonsentrasi ketika berkendara. Bahkan, ada ancaman sanksinya. Tengok saja pasal 283 yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Penjelasan mengenai konsentrasi dan apa saja yang dianggap mengganggu konsentrasi tertuang dalam penjelasan pasal 106 dalam UU No 22/2009. Aturan itu menegaskan bahwa ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, dan mengantuk. Selain itu, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.

Yuk, hindari mengemudi sambil mengantuk. Katanya, ngantuk jangan nyetir atau nyetir jangan ngantuk. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: