Skip to content

Ayah Muda Ini Punya Cara Khas Mendidik Sang Anak

1 September 2015

teddy respiro path

JALAN raya kita penuh dinamika. Pola berlalulintas jalannya pun beragam. Semua tumpah ruah di jalan raya. Bahkan, ada yang menilai bahwa jalan raya adalah cermin kehidupan suatu bangsa. Hemmm…

Pelanggaran aturan di jalan bisa jadi dipicu banyak alasan. Namun, bila kita kerucutkan akan bermuara pada dua hal. Pertama, karena tidak tahu aturan yang berlaku. Kedua, tahu tapi tidak mau tahu.

Bagi Teddy, seorang ayah muda yang tinggal di Bandung, semua pilihan ada di tangan kita. Pria yang mengantongi gelar sarjana hukum ini menilai, pilihannya bisa dengan mau tetap menegakkan hukum. Lalu, memilih “damai” atau lari dari tanggung jawab. “Semua terserah kita, apapun pilihan kita, itulah cermin diri dan kepribadian kita,” ujar pria muda itu dalam status path-nya yang diunggah, Minggu, 30 Agustuss 2015.

Status yang diunggah di media sosial itu menarik perhatian saya. Dia menceritakan pengalamannya saat ditilang oleh polisi karena berputar arah di lokasi yang tidak semestinya. Saat kejadian, dia sedang membawa anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Seluruh proses penilangan itu pun berlangsung di hadapan sang anak.

Lewat seizin Teddy, saya mencoba menuangkannya dalam tulisan ini. Terus terang, kalimat demi kalimat yang dituliskannya sarat dengan makna. Bila diselami, memberi pencerahan.

“Biar anakku melihat dan mengalami langsung sebagai bagian dari pembelajaran,” tulisnya.

Dia bercerita, sebelum meninggalkan pos polisi, dirinya berpesan kepada sang anak. Hari itu, ujarnya, sang anak bisa belajar bagaimana seorang warga negara dan aparat penegak hukum sama-sama melakukan hak dan kewajibannya dengan seimbang. “Alangkah indahnya jika nanti di zaman kamu, hal seperti ini menjadi budaya, sekarang semua pilihan ada di kamu nak,” papar Teddy.

Oh ya, tentang peristiwa yang menyebabkan dirinya ditilang dibeberkan bahwa Minggu pagi itu dia ditilang karena berputar di area berputar (U Turn) terminal Cicaheum, Bandung. Saat itu, dia membawa anak pertamanya, laki-laki yang duduk di kelas 6 SD. Perjalanan Minggu pagi itu untuk mencari pakan ikan.

“Karena lalai, nggak ngeh langsung putar balik, eh baru sadar pas dicegat polisi yang sedang bertugas,” ujarnya.

Dia pun dibawa ke pos polisi dan terjadilah dialog. Mulai dari persoalan identitas hingga pasal yang dilanggar oleh Teddy. “Silakan jangan ragu dan sungkan (menilang) kang, ini adalah wilayah teritori hukum akang dan dalam rangka menjalankan tugas negara,” tutur Teddy.

Setelah surat tilang diisi oleh petugas, Teddy menyampaikan harapannya kepada sang petugas. Tentu saja, kata dia, dirinya siap mengikuti jalannya persidangan sesuai jadwal yang sudah dituliskan di dalam lembar surat tilang.

“Sebelum saya tandatangani surat tilang itu saya berpesan, sebagai warga negara yang baik saya hanya berharap kepada petugas seperti akang tolong konsisten dan ajak semua petugas lain untuk jangan ragu menegakkan hukum kepada siapa saja, termasuk atasan akang. Saya hanya bisa membantu memberi contoh dan mengajak masyarakat lainnya,” sergahnya. (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 1 September 2015 06:45

    Kalo sesama atau kerabat dari sesama, atau dari instansi aparat yg berbeda….
    Sepertinya susah Om….

    Soalnya mindsetnya aparat itu “pemilik” hukum.. Bukan “penegak” hukum.

    Pernah liat Baju coklat nilang baju belang2?
    Jangankan itu…
    Anak dari Baju coklat aja kalo ketilang tinggal telepon Bapak/ibunya.

    Terkecuali sedang dilaksanakan razia gabungan.

    Maaf IMHO.
    Faktanya begitu Om…

    Miris sih…
    To masih ada kok beliau beliau yg tulus,Dan tegas.

    Tapi ya optimis aja, suatu saat semua akan berubah lebih baik..

    Ambil contoh.
    Kayak dikantor samsat STNK Grogol…
    Sekarang urus perpanjangan bebas biaya “selip”…. Udah bersih lah.. Ga kayak dulu.
    Mau ACC BPKB “selipin”, Mau Gesek Nomor rangka/mesin “selipin” lagi. Mau ambil STNK ditanya… “Mau cepet Mas?”…

    Alhamdulillah… Beliau-beliau disana mau berbenah.

  2. 1 September 2015 06:47

    Anyway… Contoh yang bagus.
    Apalagi ditegaskan… Kalo belom punya KTP Dan SIM jangan mengemudikan motor dijalan.

  3. 1 September 2015 07:21

    Jempol buat si akang (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: