Skip to content

Perempuan Eksekutif Ini Lebih Memilih Naik Kereta

25 Agustus 2015

silvi adira finance

KARUT marutnya lalu lintas jalan Jakarta membutuhkan kesigapan para pengguna jalan. Para pengguna jalan mesti pandai-pandai memiliki trik agar betah di tengah kemacetan lalu lintas jalan.

“Kalau saya memilih naik kereta karena tidak tahan dengan kemacetan lalu lintas jalan Jakarta yang menggila,” ujar Silvi Tirawaty, senior vice president PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, saat berbincang di Jakarta, baru-baru ini.

Dia bercerita, tiap pagi dirinya menempuh perjalanan naik kereta dari Serpong, Tangerang, Banten ke kawasan Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Walau tak jarag berdesak-desakan di kereta, tambahnya, jauh lebih nyaman dibandingkan dengan menyetir sendiri mobil pribadi.

“Waktu tempuhnya bisa dua jam lebih. Melelahkan,” papar perempuan lulusan Universitas Stuttgart, Jerman ini.

Ya. Waktu tempuh perjalanan di Jakarta kian melambat belakangan ini. Maklum, ada sekitar 53 juta perjalanan yang wira-wiri di Jakarta dan sekitarnya. Mayoritas dari perjalanan tersebut menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Data Ditlantas Polda Metro Jaya yang menaungi Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) memperlihatkan bahwa hingga akhir 2014, jumlah kendaraan di wilayah ini mencapai sekitar 17,5 juta unit. Dari total kendaraan bermotor, sepeda motor menyumbang sekitar 75% atau setara dengan sekitar 13 juta unit. Selamat datang di kota sepeda motor.

Pada periode yang sama, rasio jalan di Jakarta dibandingkan dengan total luas daratan Jakarta baru sekitar 7%. Masih jauh dari ideal yang semestinya 12% dari total luas kota. Saat ini, jumlah panjang jalan Jakarta sekitar 6,86 juta kilometer (km) atau setara dengan sekitar 42 juta meter persegi (m2), sedangkan luas daratan Jakarta sekitar 661 kilometer persegi (km2). Oh ya, dari total panjang jalan sekitar 2% adalah jalan tol atau setara dengan 123 km.

Penggunaan kendaraan bermotor pribadi terus meningkat. Pada 2002 penggunaan kendaraan pribadi baru 33% dari total pergerakan di Jakarta. Tapi, pada 2010 angkanya sudah menyentuh 50%. Hal itu berbanding terbalik dengan penggunaan angkutan umum, yakni dari semula 42% menjadi tinggal 20%.

Tunggu dulu, pada 2002, penggunaan sepeda motor sebagai alat transportasi komposisinya baru sekitar 28% dengan penggunaan bus sekitar 50%. Namun, kondisi menjadi terbalik pada 2010, yakni penggunaan sepeda motor sekitar 63% dan penggunaan bus sekitar 17%. Oh ya, data itu saya cukil dari survey JUTPI.

Nah, di tengah itu semua, Silvi sempat menggulirkan program Car Sharing, yakni berbagi tempat duduk mobil. Program itu mengajak warga yang mempunyai ritme perjalanan yang sama dan daerah asal yang sama untuk berbagi tempat duduk. Warga ternyata cukup antusias. Mirip dengan program Nebengers.com, bedanya, mereka yang ikut program ini memiliki ritme yang sama. “Yang bisa ikut umumnya berasal dari lokasi yang sama dengan jam keberangkatan yang nyaris sama. Praktis saling kenal,” papar perempuan berhijab ini. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: