Skip to content

Hilang Order Gede Gara-gara Melawan Arus Kendaraan

22 Agustus 2015

grabike di jalan

BISNIS ojek sepeda motor online sedang memasuki masa bulan madu. Banyak warga berduyun-duyun melamar untuk ikut menjadi mitra. Maklum, pendapatan menggiurkan sudah menanti.

“Awalnya saya tidak percaya. Tapi, begitu menjajal dan ikutan baru merasakan sendiri, bisa dapat Rp 300 ribu dalam sehari,” kata Mul, seorang ojek online.

Pria yang memakai jaket bertuliskan ‘Grabbike’ itu banyak bercerita manisnya ojek online saat berbincang dengan saya. Kami bertemu tidak sengaja disalah satu sudut Jl Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 21 Agustus 2015 malam. Saat itu dia sedang beristirahat sebelum pulang ke rumah. “Hari ini saya mengantar enam orang. Lumayan,” katanya.

Ya. Profesi tukang ojek seperti naik kelas ketika dikawinkan dengan pemakaian aplikasi telepon seluler. Urusan pesan memesan jasa hingga berapa besaran tarif yang harus dibayar konsumen dapat langsung terlihat di ponsel.

“Untuk mendapat Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu caranya adalah dengan mengambil antaran yang jaraknya jauh. Ada yang sekali antar bisa sampai Rp 100 ribu,” kata dia.

Masih soal manisnya ojek online, Mul bercerita, dalam satu bulan pendapatannya berkisar Rp 10-14 juta. Sebuah angka yang besar bila dibandingkan usaha yang ditekuninya sebelum bergabung ke ojek online.

Adakah pahitnya?

“Belum ada pak,” kata pria berusia 40 tahunan itu.

Tapi, tambah dia, ada juga getirnya. Soal yang ini lebih persisnya adalah lika-liku profesi.

“Yang paling bikin menyesakan hati itu saat kita mau ambil order gede, eh hilang karena kita melanggar aturan di jalan,” sergah bapak lima anak ini.

Dia bercerita, hilangnya order gara-gara dia melawan arus kendaraan. Bahkan, dia mengaku juga kehilangan order gara-gara menerobos lampu merah. Sejak itu dia mengaku tidak ingin melanggar aturan lalu lintas jalan. “Order hilang kalau kita melanggar aturan. Tapi, demi keselamatan di jalan, saya juga tidak ingin melanggar lagi,” paparnya.

Pak Mul berseloroh, apa yang dilakukan para ojek online di tempatnya terpantau oleh sistem teknologi informasi. Aktifitas di jalan para tukang ojek itu diharapkan tidak melanggar aturan serta berkendara aman dan selamat. Keselamatan menjadi prioritas. “Saya pikir, kedepannya penindakan pelanggaran aturan yang diterapkan polisi juga seperti sistem ini. Kalau melanggar, ditilang dan kena denda saat mengurus perpanjangan surat-surat kendaraan atau SIM,” katanya.

Ya. Tilang elektronik pernah digembar-gemborkan Kepolisian RI. Saat sistem itu diterapkan, para pelanggar akan dikenai sanksi denda saat mengurus perpanjangan surat STNK atau SIM. Entah kapan diberlakukan. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. Joko permalink
    22 Agustus 2015 15:34

    Mungkin aplikasi ini seharusnya wajib dipasang di seluruh kendaraan bermotor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: