Skip to content

Keren Nih Ajakan Para Penunggang Thunder Ini

20 Agustus 2015

koster peserta

CARA berbeda dilakukan oleh komunitas penunggang Thunder dalam memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Ketika sejumlah kelompok masyarakat menggelar perlombaan demi perlombaan, komunitas yang satu ini membuka mata anak-anak muda dengan ajakan ‘Merdeka dari Maut Jalanan.’

“Kami ingin para pengguna jalan merdeka atau terhindar dari kecelakaan lalu lintas jalan,” ujar Rully, ketua umum Komunitas Suzuki Thunder (Koster) Indonesia, saat berbincang dengan saya di Jakarta, Senin, 17 Agustus 2015 siang.

Dia mengemas ajakan tersebut di dalam diskusi ‘Merdeka dari Maut Jalanan’ yang digelar di Jakarta. Acara dihadiri oleh 70 orang dari 17 komunitas atau klub dan kesemuanya itu perwakilan dari delapan koordinator wilayah. Angka peserta itu juga bermakna, 17 Agustus dan dalam memperingati usia kemerdekaan RI yang ke-70 tahun. “Untuk itu saya minta bro Edo untuk berbagi pengalaman dalam diskusi tersebut,” katanya.

Nuansa memperingat kemerdekaan RI demikian kental. Diskusi dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang selanjutnya semua peserta diajak mendengar pembacaan teks Proklamasi yang dibacakan oleh Presiden Pertama RI Soekarno pada 17 Agustus 1945. “Saya merasa nuansa lain dan semangat kemerdekaan di ruangan ini,” papar Giri S Triatmojo, General Manager Strategy & Planning PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) 2W yang memberi sambutan dalam diskusi tersebut.

Menantang Maut

Saya ajak para penunggang kuda besi yang hadir siang itu untuk melihat fakta di sekitar. Mulai dari fakta hilangnya 230 ribu jiwa anak negeri selama 10 tahun terakhir akibat kecelakaan di jalan, hingga fakta adanya 5 juta pelanggaran di jalan yang ditindak oleh Korlantas Polri dalam setahun. Di sisi lain, fakta aksi menantang maut di jalan juga disodorkan untuk membuka mata bahwa masih ada ‘penjajahan ‘ di jalan raya. Indonesia masih belum merdeka dari ancaman fatalitas kecelakaan.

koster edo paparan
Faktanya, memasuki usia 70 tahun, Indonesia dibayangi oleh tewasnya 70-an anak negeri setiap hari lantaran kecelakaan di jalan. Faktanya juga, hal itu terjadi karena aksi sikat sana sikut sini alias perilaku melanggar aturan di jalan. Sekitar 41% pemicu kecelakaan lalu lintas jalan adalah perilaku tidak tertib.

“Kenapa pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi?” tanya Hafiz, dari Koster Cibinong.

Bagi saya, pertanyaan itu beraroma ungkapan keprihatinan. Untuk soal yang satu ini saya mengajak peserta diskusi untuk sejenak merenung bahwa ada alasan mendasar yang membuat pelanggaran demi pelanggaran terjadi di jalan raya kita. Saya merangkumnya ke dalam kalimat bahwa para pelanggar belum merasa dirugikan atas tindakan pelanggaran yang dilakukannya. Artinya, jika seseorang pernah merasakan efek buruk dari pelanggaran yang dia lakukan, orang tadi cenderung tidak akan melakukan lagi. Efek buruk dari pelanggaran itu misalnya, dikenai denda maksimal seperti melanggar marka atau rambu jalan yang diancam dengan sanksi denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, lantaran melanggar kemudian terjebak dalam insiden kecelakaan. Tak ada yang menyanggah soal kalimat tersebut.

Namun, Reza dari Koster Tangerang Selatan mengutarakan bagaimana caranya memberitahu kepada pelanggar agar tidak melakukan pelanggaran di jalan. Untuk urusan yang ini saya menyodorkan analogi, “Akan sia-sia mengajak orang agar tidak mabuk-mabukan ketika orang itu yang sedang mabuk minuman keras.”

koster foto bareng

Artinya, amat sedikit potensi didengarkan ajakan untuk tidak melanggar kepada orang yang sedang melanggar aturan di jalan. Ajakan hanya bisa dapat lebih mengena ketika disampaikan dalam kondisi yang nyaman. Tentu, kalau untuk urusan menindak sang pelanggar bukanlah tanggung jawab warga sipil. Hal itu wewenang para penegak hukum.

Diskusi terus bergulir dengan sesekali diselingi dengan games yang dibalut dengan nuansa pesan keselaatan jalan. Panitia menyediakan aneka hadiah seperti kaos, tas, dan jaket untuk pesepeda motor.

Tentu ajakan di dalam ajang seperti diskusi yang digelar Koster tersebut tak bisa sontak mengubah perilaku seseorang. Namun, pesan yang disampaikan setidaknya membuka wawasan bahwa kemerdekaan seutuhnya di jalan raya kita masih belum terwujud. Butuh tindakan dan ajakan yang berkesinambungan dalam membangun kesadaran perilaku berlalulintas jalan yang aman dan selamat. “Kami akan terus mengkampanyekan pentinya safety riding. Dalam waktu dekat kami juga akan melakukan aksi kampanye lagi,” sergah Rully.

Yuk. Terus semangat selama darah masih mengalir di nadi kita. Merdeka! (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 20 Agustus 2015 06:35

    Joss lah..
    http://motomazine.com/2015/08/20/kemenhub-akan-segera-terapkan-aturan-tentang-batasan-kecepatan-tak-lebih-dari-100-kmjam/

  2. 20 Agustus 2015 14:06

    semoga sukses dengan ajakannya ya..

  3. 22 Agustus 2015 14:55

    hebat! Visi dari komunitas ini apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: