Skip to content

Hilangnya Akal Sehat di Jalan Raya

16 Agustus 2015

berhenti di belakang garis setop bikers

BEDANYA manusia dengan hewan adalah manusia punya akal sehat dan nurani. Kalau dua aspek itu luntur maka tak ada bedanya.

Jalan raya kita disesaki dengan atraksi mirip mereka yang tak memakai akal sehat dan nurani. Sikat sana, sikut sini. Jarah sana, jarah sini. Aturan yang ada dilabrak. Seingat saya, tak kurang dari 16 ribu pelanggaran yang ditindak setiap harinya. Sekali lagi, jumlah itu yang ditindak. Bagaimana dengan yang tidak ditindak?

Lihat saja sekeliling kita. Ada yang melibas marka jalan. Lalu, menerobos lampu merah. Bahkan, melawan arus kendaraan. Muaranya cuma satu, demi kepentingan diri sendiri. Enggan antre, menjarah hak orang lain. Mentalitas jalan pintas.

Ironisnya, bila atraksi itu dipertontonkan oleh sang pemegang kuasa di jalan. Lengkaplah sudah, negeri barbar pelahap sesama.

Buntut kesemua itu kita semua tahu. Mayoritas kecelakaan dipicu oleh perilaku tidak tertib ketika berkendara di jalan raya. Perilaku tidak tertib kalau diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana, ugal-ugalan alias melanggar aturan. Jadilah jalan raya sebagai tempat praktik berkendara ugal-ugalan. Mempraktikan mentalitas jalan pintas, enggan bersusah payah antre di tengah kemacetan yang mengular.

Oh ya, perilaku tidak tertib menyumbang setidaknya 41% dari total kasus kecelakaan lalu lintas jalan di negeri kita. Ironisnya, setiap hari kita kehilangan 70-an jiwa anak bangsa lantaran petaka di jalan raya. Coba bandingkan, faktor kematian apa diluar penyakit yang demikian dahsyat mencerabut nyawa anak negeri?

Saat status ekonomi, pendidikan, bahkan status politik tak lagi menjadi penjaga moralitas di jalan raya, kelakuan barbar-lah yang muncul. Mereka meminta prioritas. Kalau tidak mampu, mereka merampas hak orang lain untuk menikmati prioritas. Pertanyaannya, ada apakah gerangan dengan bangsa ini?

Wahai para penguasa, jangan lupa bahwa negara wajib melindungi warganya termasuk di jalan raya. Benar bahwa setiap warga negara dituntut kesadarannya mengusung akal sehat dan nurani ketika berkendara, tapi Negara harus ada di garda depan. Lewat segala instrumennya Negara harus mampu menjaga hajat hidup orang banyak termasuk di jalan raya.

Ketika seabrek peraturan yang amat bagus, namun miskin penegakan hukumnya, hanya soal waktu runtuhnya kewibawaan hukum. Kalau sudah begitu, repot jadinya. Apalagi, jika ada pihak yang memang senang kewibawaan hukum luluh lantak sehingga bisa menari dengan kekuatan sumber dayanya, misal, kekuatan ekonomi.

penegakan hukum di jalan
Bangsa yang luluh lantak penghargaannya atas hukum hanya tinggal menunggu waktu tumbang di tengah persaingan global. Indonesia yang berpenduduk 250 jutaan jiwa bakal tercabik-cabik menjadi sekadar pasar. Tak ada inovasi yang menghasilkan produk kebanggaan negeri. Bekerja dan bekerja pada kekuatan lain tanpa memiliki jati diri. Indonesia benar-benar menjadi sekadar pasar. Menjadi kuli di negeri sendiri.

Wahai Negara, wahai penguasa, wahai para pemilik kekuatan ekonomi hingga politik, simpanlah arogansi kalian di lemari besi dan buang kuncinya ke laut dalam. Jalan raya milik bersama. Disana si kecil tertatih-tatih merangkak untuk mencari sesuap nasi. Walau, tak sedikit diantara mereka yang tak mampu menahan tekanan sehingga ikut mempertontonkan kelakuan brutal merampas hak sesama. Ingat, semua ada porsinya. Jalan raya bukan milik para penguasa, apalagi milik sekelompok orang tertentu.

Kami rindu penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu.
Kapan kita mampu mewujudkan jalan raya yang humanis? (edo rusyanto)


foto:edo. ilustrasi: path de’lone

Iklan
One Comment leave one →
  1. 16 Agustus 2015 12:00

    Artikel yang bermanfaat.

    Terimakasih

    Just Info :
    Software Klinik Online
    http://www.franiksoft.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: