Skip to content

Tukang Ojek Ini Pilih Merangkul Ketimbang Adu Jotos

11 Agustus 2015

gojek hasan tebet

SUASANA kedai makan di bilangan Tebet, Jakarta Selatan ini cukup ramai. Sejumlah konsumen datang silih berganti. Ada yang menyantap makanan di tempat, tapi ada juga yang membawa pulang pesanannya.

Siang itu saya termasuk konsumen yang menyantap hidangan di tempat. Usai memesan Mie Aceh kuah dan segelas teh tarik dingin, saya memiliih duduk di jajaran kiri meja kedai. Maklum, di bagian ini pula empat teman saya duduk saling berhadap-hadapan. “Mie Aceh-nya lezat bang Edo, coba aja nanti rasakan,” ujar Ekky, kolega saya mengajak santap siang di kedai itu.

Benar saja, tak lebih dari 20 menit nyaris ludes mie yang dihidangkan dengan sayuran, daging, dan udang itu. Ditambah kerupuk dan segelas teh tarik dingin lengkaplah santap siang ala kedai Mie Aceh. “Mantabs nih Ky, bisa kita coba lagi,” ujar saya.

Di sela santap siang perhatian saya tercuri oleh kedatangan seorang tukang ojek. Dia memakai helm, sepatu, dan jaket. Di jaketnya yang berwarna hijau ada tulisan Gojek. Pria yang saya taksir berusia hampir 40 tahun itu duduk di depan saya. Di tangannya terselip sebatang rokok, di depannya tampak segelas kopi hitam. Gerakannya hampiir rutin, usai menyeruput kopi dia menghisap rokok kreteknya. Sesekali dia berbincang dengan pemilik kedai yang sekaligus berperan sebagai juru masak.

“Sedang istirahat atau nunggu pesanan pak?” Sapa saya membuka pembicaraan.

Dia pun bertutur bahwa dirinya sedang istirahat usai mengantar penumpang. Pelanggan terakhir yang diantarnya jaraknya cukup jauh. “Lagi pula saya sudah mengantar lima orang. Jadi istirahat dulu,” sergah Hasan, nama tukang ojek itu.

Dari mengantar lima konsumen, dia mengantongi uang Rp 250 ribu. Gojek yang memakai aplikasi telepon seluler itu membantunya melipat gandakan pendapatan bila dibandingkan saat menjadi ojek konvensional. Resepnya adalah dengan memilih konsumen yang meminta diantar untuk jarak jauh. Oh ya, soal tarif Gojek, simak aja di laman viva.co.id.

“Order diambil lewat ponsel. Nanti hasilnya dibagi antara saya dengan manajemen Gojek. Saya 80%, Gojek 20%,” kata dia sambil menunjukkan ponsel berwarna putih bertuliskan ZTE.

Menurut dia, selain mendapat dua helm, jaket, dan pelindung kepala, dari manajemen Gojek dia juga mendapat tawaran mencicil ponsel yang sudah ada aplikasi untuk pemesanan ojek. Ponsel itu dicicil hingga 100 hari dengan besaran cicilan Rp 7.000 per hari.

“Ngomong-ngomong bagaimana bapak melihat adanya penolakan dari sejumlah kalangan pengojek di Jakarta?” Tanya saya.

Dia mengaku belum pernah bersinggungan dengan pengojek pangkalan. Pastinya, dia pernah mendengar soal penolakan dan adanya aksi pemukulan. “Kalau saya sih nggak suka berantem, mending mereka kita rangkul. Kita kan sama-sama mencari rezeki di jalan, untuk apa berantem. Kita rangkullah mereka,” ujar Hasan.

Ya. Gesekan di jalan raya hanya membuang energi. Ibaratnya, menyelesaikan masalah dengan masalah. Sikap arogan, sok jagoan, dan merasa paling kuat adalah jiwa kerdil yang mesti dipangkas. Kita bisa belajar dari Hasan bahwa hidup di jalan raya membutuhkan toleransi. Kalau mau jadi jagoan, adu jotos di ring tinju sana. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
7 Komentar leave one →
  1. 11 Agustus 2015 11:07

    Ini baru dewasa
    http://motomazine.com/2015/08/11/pasca-race-indianapolis-valentino-rossi-yamaha-dan-movistar-team-masih-menjadi-pemuncak-klasemen-perolehan-poin/

    • 11 Agustus 2015 15:23

      semoga kedewasaan berlalulintas jalan kian meluas. aminnn.

      • 11 Agustus 2015 15:31

        Aminn… Miris lihat pemotor sekarang kang

  2. Deni permalink
    11 Agustus 2015 15:00

    Semoga gak cuma di cerita dan di blog ini aja.
    Di jalanan real itu pada susah mengendalikan emosi Ckck

    • 11 Agustus 2015 15:23

      semoga jalan raya kita kian humanis. aminnn.

  3. 12 Agustus 2015 06:50

    Waw bener juga ya, haha… saya juga merasa heran kenapa sebagian orang indo ini susah untuk diatur, apa ini sudah menjadi budaya ? hemmm semoga saja budaya yang seperti ini cepat luntur.

  4. 12 Agustus 2015 09:57

    Ternyata masih banyak orang cerdas yang menggunakan akal dengan baik, gak sekedar otot…

    Analisis lap by lap Indianapolis 2015, MM VS JL
    http://wp.me/p1Foe8-3D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: