Skip to content

Pengalaman Gowes di Gouverneurs Kantoor

2 Agustus 2015

img1437848496277_resized

SEPEDA kayuh di Kota Tua, Jakarta Barat begitu menggoda. Coba saja lihat tongkrongannya. Penuh warna-warni dan dilengkapi aksesoris topi dengan berbagai corak. Mau mencoba?

“Cukup bayar Rp 20 ribu untuk setiap 30 menit pak. Silakan dicoba,” ajak seorang pemuda yang menjaga jajaran sepeda kayuh di Kota Tua, saat saya bertanya-tanya, di Kota Tua, belum lama ini.

Saya tidak sendiri. Tampak banyak orang asyik menggowes sepeda kayuh di pelataran yang ratusan tahun menjadi kantor gubernur Hindia Belanda itu. Ada orang tua, remaja, hingga anak-anak. Pria maupun perempuan asyik menggowes.

Tunggu dulu. Gowes yang satu ini bukan sembarang gowes. Hampir semua memanfaatkan si sepeda angin sebagai kendaraan untuk berpose. Latar belakang yang memukau berupa gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda menjadi sensasi tersendiri. Tak cukup berpose, adegan selfie alias memotret sendiri dengan menggunakan tongkat yang kondang disebut tongsis pun meruyak.

Sepeda sewaan tadi bisa dipakai berkeliling area Kota Tua. Sambil mengayuh bisa menyambangi sejumlah tempat yang memikat. Sebut saja misalnya Museum Kesejarahan Jakarta, Museum Wayang, hingga Museum Keramik.

Tak perlu khawatir dehidrasi lantaran tersengat teriknya matahari. Di sekitar area juga terdapat sejumlah para pedagang minuman ringan yang menyegarkan. Bahkan, di salah satu sudut tersedia minimarket yang menjajakan aneka minuman dingin maupun hangat.

Ya. Mengunjungi Kota Tua memang tak pernah membosankan. Sepeda kayuh hanya salah satu fitur yang disediakan di kawasan wisata ini. Sejumlah atraksi dan museum seperti disebut ditas melengkapi minat wisatawan mempelajari sejarah Ibu Kota Republik Indonesia yang sebelumnya oleh kolonial Belanda dinamai Batavia.

Nah, lazimnya destinasi wisata, Kota Tua tak melulu disambangi para wisatawan domestik dari Jakarta atau kota-kota sekitarnya. Banyak juga wisatawan mancanegara yang asyik menikmati wisata sejarah disini. “Saya datang dari Belanda. Mau melihat sejarah Kota Tua,” ujar seorang wisatawan asing saat berbincang dengan saya.

Di tangan sang wisatawan tampak sebuah kamera profesional. Sesekali dia mengambil gambar dengan kameranya. Selebihnya dia asyik menyambangi area-area di Kota Tua dan tentu saja museum sejarah Jakarta yang menjadi menu utama wisata sejarah disini. Mau mencoba? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: