Skip to content

Rasanya, Indonesia Perlu Beribu-ribu Mawar 86

28 Juli 2015

mawar 86 film polisi tilang_youtube

MAWAR 86 menjadi oase di tengah minimnya figur teladan di jalan raya. Film pendek yang mengangkat kisah nyata seorang polisi lalu lintas (polantas) di Gresik, Jawa Timur ini semestinya memberi inspirasi. Terutama agar menginspirasi para petugas di garda depan benar-benar tampil dengan wajah yang humanis tapi sekaligus tegas.

Sejenak kita menggali ingatan tentang Mawar 86 yang diproduksi Forum Film Jambi dan dilansir di youtube pada 2014. Inti kisah itu adalah bagaimana sang petugas mencoba meminta maaf kepada sang isteri yang sudah ditilangnya. Malam ketika kembali ke rumah, sang petugas memberi setangkai mawar merah sekaligus kartu ucapan permintaan maaf sekaligus ungkapan cinta kasih yang tulus.

Bila Mawar 86 mengandalkan karakter sang pemeran dan sudut pengambilan gambar, berbeda dengan Lain Cerita milik TVOne. Pada episode cuplikan tayangan Minggu, 19 Juli 2015, digambarkan bagaimana sang petugas, yakni Aiptu Jailani menceritakan ihwal penilangan dan alasan dia menilang yang ramai dibicarakan pada 2013. Digambarkan bahwa sang petugas tak ingin dituding pilih kasih sehingga harus menilang siapapun yang melanggar aturan di jalan.

Tayangan Lain Cerita pada episode sebelumnya bahkan mengulik lebih detail tentang petugas yang tegas itu. Dalam wawancara antara pembawa acara dengan Jailani terungkap bagaimana kronologis penilangan. “Saya takut dikatain tebang pilih,” ungkap sang petugas.

Dia mengaku, sang isteri sempat marah saat ditilang. Dia dituduh kejam dan jahat. Bahkan, sang isteri sempat dongkol dan marah dua hari.“Sampean kejam, sampean jahat. Saya malu dilihat orang banyak, orang senam dan di car free day matanya tertuju ke kita. Nanti soal tilang saya yang bayar, walau uangnya minta dari sampean,” paparnya.

Rahmawati, isteri dalam tayangan yang sama bilang, saat kejadian tilang dia baru saja pulang dari pasar dan berboncengan dengan sang anak. “Maaf saya tidak tahu kalau ini masih waktunya car free day. Soalnya, teman-temannya suami saya bilang, car free day sudah selesai silakan saja lewat. Saya sempat ngambek dua hari,” selorohnya.

Indonesia butuh figur teladan, termasuk di jalan raya. Selain menanti kesadaran para pengguna jalan, figur teladan butuh ditumbuh kembangkan. Teladan mulia agar para pengguna jalan lebih humanis, sudi mentaati aturan dan menjaga etika. Muaranya, agar kenyamanan dan keselamatan para pengguna jalan dapat benar-benar diwujudkan.

Ketaatan pada aturan di jalan menjadi kata kunci. Maklum, kita tahu bahwa pemicu utama kecelakaan adalah perilaku berkendara yang tidak tertib alias melanggar aturan. Data Korlantas Polri menunjukan bahwa sekitar 42% kecelakaan dipicu oleh perilaku tidak tertib. Andai aturan bisa ditegakkan seyogyanya potensi kecelakaan lalu lintas jalan dapat dipangkas secara signifikan. Kita juga tahu bahwa kecelakaan masih menimbulkan duka lara bagi anak negeri. Setiap hari, rata-rata 78 tewas akibat kecelakaan di jalan.

Figur teladan, sikap toleran, dan taat aturan bisa menjadi ramuan jitu memangkas kasus kecelakaan di jalan. Apalagi, bila penegakkan hukumnya berjalan dengan tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: