Skip to content

Giliran Ramai-ramai Jarah Bahu Jalan

19 Juli 2015

bahu jalan tol purbaleunyi

ARUS kendaraan ramai lancar ketika kami melintas di jalan tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi). Jalan tol yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menjadi salah satu rute favorit bagi warga Jakarta yang hendak ke Bandung atau sebaliknya. Jalan tol mulus dengan bonus pemandangan hijau nan indah di kiri dan kanan jalan membuat pengguna tol menjadi tidak bosan.

Siang itu kami melintas dengan tujuan kota Bandung. Kecepatan mobil multi purpose vehicle (MPV) keluaran tahun 2014 melenggang normal. Batas kecepatan yang dipatok penyelengara jalan tol adalah maksimal 80 kilometer per jam (kpj) dan minimal 60 kpj. “Kalau saya geber 120 kpj sebenarnya bisa nih pak,” seloroh pengemudi yang mengantar kami menuju Bandung, penghujung pekan ini.

Dia pun bercerita, pernah memacu kecepatan berkisar 120-140 kpj di jalan tol yang memiliki banyak jalan mendaki itu. “Tapi, karena hari ini membawa anak-anak dan keluarga, saya ikutin aja aturan yang ada,” selorohnya.

Entah yang ada di dalam hati sang pengemudi tadi, tapi dia sesekali sempat mencoba mendahului dari kiri jalan, termasuk tergoda melintas di bahu jalan. Inilah tiba saatnya saya harus menyampaikan keluhan. “Kalau melibas bahu jalan rasanya tidak tepat karena bukan jalur untuk mendahului,” ujar saya.

Sang pengemudi hanya manggut-manggut dan belakangan tidak mengulang kelakuannya. Tapi, dia buru-buru berseloroh, “Wah itu banyak pak yang menyerobot di bahu jalan.”

Ya. Di luar sana dengan gamblang terlihat adegan salip menyalip dari bahu jalan. Pelakunya tidak tanggung-tanggung, bukan hanya mobil bus angkutan umum, tapi para mobil bermerek kondang dan tergolong mewah. Padahal, di sejumlah titik jalan tol itu terlihat papan rambu jalan yang mencolok dengan tulisan ‘ Lajur kanan hanya untuk mendahului.’ Bahkan, rambu yang lain dengan tegas menyatakan, ‘Dilarang mendahului dari sebelah kiri.’

Barangkali kedua rambu tadi tidak terbaca. Atau, rambu tadi tidak dianggap penting. Padahal, banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana getirnya aksi libas melibas bahu jalan. Lajur yang semestinya untuk kondisi darurat itu pernah menjadi banyak saksi mata bertumbangannya anak negeri di jalan tol. Paling mutakhir adalah kasus kecelakaan di tol Cikopo-Palimanan ketika sebuah minibus menghantam sebuah truk yang sedang mogok. Enam orang tewas dan lainnya menderita luka.

“Kadang memang kita suka nakal di jalan raya,” sergah pengemudi tadi. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: