Skip to content

Mereka Berbondong-bondong Tanpa Helm

18 Juli 2015

anak tanpa helm instagram

SUARA takbir masih terdengar. Anak-anak di kampung saya tersenyum ceria. Mereka merayakan Lebaran Idul Fitri 1436 hijriah yang bertepatan pada Jumat, 17 Juli 2015 sambil memakai baju baru yang bersih.

Anak-anak saling beranjangsana seusai menjalankan sholat Idul Fitri di masjid. Mereka pun dengan riang mengunjungi sanak family dan tetangga di sekitar tempat tinggal sambil berharap siempunya rumah memberi salam tempel. Kebiasaan salam tempel atau membagikan uang kepada anak-anak saat Hari Raya menjadi pemandangan lazim. Berbagi kebahagiaan walau tidak besar amat berarti bagi anak-anak usia sekolah dasar (SD), bahkan anak-anak usia sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP).

Di sudut lain menyuguhkan pemandangan berbeda. Anak-anak usia SD dan SLTP dengan riang gembira wira-wiri menunggang sepeda motor. Mereka bersepeda motor ada yang dua orang, tiga orang, bahkan empat orang. Keceriaan terpancar dari wajah mereka. Entah hendak menuju kemana. Pastinya, selain lebih dari dua orang, mereka juga bersepeda motor tanpa memakai helm.

Ya. Pemandangan anak-anak bersepeda motor tanpa memakai helm menjadi rutinitas di sekitar kita. Anak-anak masih di bawah umur itu ada yang menjadi pengendara alias yang bawa motor, atau sebagai penumpang alias pembonceng. Patut diduga anak-anak iut mendapat pembiaran dari para orang tua mereka. Para orang tua yang permisif. Alasan paling atas adalah lantaran bersepeda motor dalam jarak dekat.

Anak-anak juga mencontoh orang tua. Ketika orang tua, kakak, saudara atau siapa pun orang di sekitar mereka mempertontonkan berkendara tapan memakai helm, memori mereka langsung merekam bahwa bersepeda motor tanpa helm adalah lazim. Dana patut diduga, mereka tidak diberi edukasi tentang risiko bersepeda motor tanpa memakai helm.

Padahal para orang tua tahu bahwa risiko berkendara tanpa helm amat tinggi. Ketika pengendara sepeda motor terlibat insiden di jalan, benturan di kepala akan berdampak fatal. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa luka di kepala dan cedera leher merupakan penyebab utama dari kecacatan dan kematian pesepeda motor yang terlibat kecelakaan. Di Eropa, cedera kepala berkontribusi sekitar75% terhadap kematian para pesepeda motor. Sedangkan di negara-negara tertinggal dan berkembang, diperkirakan mencapai hingga 88%.

Tak heran bila Indonesia membuat regulasi yang mewajibkan para pengendara dan penumpang sepeda motor untuk memakai helm. Aturan yang masih berlaku saat ini adalah Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Lazimnya sebuah aturan, ada sanksi bagi para pelanggar. Aturan itu menyatakan pelanggar bisa dikenai denda maksimal Rp 250 ribu atau sanksi pidana penjara maksimal satu bulan.

Lantas, jika tahu ada risiko cukup tinggi dan ada aturan yang memuat sanksi, kenapa masih banyak yang enggan memakai helm? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 18 Juli 2015 07:03

    Dumeh bodo lek
    http://motomazine.com/2015/07/18/hot-first-look-honda-rcv-versi-2016-sekilas-tak-ada-perbedaan-bro/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: