Skip to content

Oknum Wartawan Ini Akhirnya Ditilang

10 Juli 2015

polantas jakarta tugas

TAK ada yang kebal hukum di negara hukum. Apa iya?

“Bapak saya bantu tilang yah. Saya kan hanya petugas yang menjalankan undang-undang,” sergah seorang petugas kepada pria muda di Jakarta, suatu senja.

Pernyataan itu dikutip seorang pria muda yang kena tilang karena melanggar aturan three in one. Aturan yang mewajibkan pengendara mobil minimal mengangkut tiga orang dalam satu mobil, termasuk sang pengemudi, di jalan-jalan tertentu di Jakarta. Three in one juga diterapkan pada jam-jam tertentu, yakni jam-jam sibuk di Jakarta. Tujuannya, mengurangi beban kendaraan di Jakarta yang saat ini tercatat memiliki tak kurang dari 16 juta kendaraan bermotor. Mayoritas kendaraan itu adalah sepeda motor.

Dialog tadi diceritakan sang oknum wartawan yang mengaku kena tilang di salah satu sudut Segi Tiga Emas Jakarta, yakni kawasan bisnis super sibuk. Dia bercerita, saat hendak keluar dari area sebuah gedung pencakar langit, mobilnya masuk ke jalur three in one dan tertangkap petugas yang berjaga di kawasan itu.

“Maaf pak, saya buru-buru,” kata sang oknum sambil mengeluarkan surat-surat, termasuk menyelipkan kartu pers.

“Apa ini? Kartunya untuk saya?” sergah sang petugas saat disodori kartu pers tadi.

“Iya saya minta maaf sudah melanggar, mohon dibantulah,” kata sang pemuda itu lagi.

“Iya, saya bantu tilang yah?” ujar sang petugas tak kalah cerdik.

“Masa tidak bisa dibantu?” rengek sang oknum wartawan itu.

“Apalah saya pak, saya kan cuma petugas yang menjalankan undang-undang. Saya tilang yah,” tegas sang petugas.

Dialog itu terhenti ketika sang petugas akhirnya menulis surat tilang. Kertas berwarna merah muda pun berpindah tangan. Sang oknum wartawan harus mengikuti persidangan dan sang petugas kembali menjalankan tugasnya setelah menahan surat izin mengemudi (SIM) sang pelanggar aturan three in one tadi.

Saya banyak kenal orang yang bekerja di perusahaan media massa. Ada satu dua orang yang merasa punya hak istimewa di jalan raya. Dengan dalih terburu-buru hendak meliput suatu berita, meminta toleransi atas pelanggaran yang dia lakukan. Tapi, tak sedikit yang saya kenal cukup tertib dan menghormati keputusan petugas untuk menilang dirinya saat kedapatan melanggar aturan.

“Gue sih kalau ditilang, ya ambil saja di Kejaksaan Negeri,” seloroh seorang wartawan muda.

Ironisnya, bukan saja jurnalis, namun pekerja di media yang bukan bagiannya sebagai wartawan, kerap berlindung di balik kartu pers. Atau, berlindung di balik tulisan nama medianya di mobil dinas. Bahkan, bermodal stiker nama perusahaan tempatnya bekerja untuk mendapat prioritas dan belas kasih atas pelanggaran yang dilakukannya.

“Ya kalau ditilang, saya tunjukin aja kartu pengenal tempat saya bekerja,” sergah seorang pengemudi yang bekerja di perusahaan pers.

Kembali ke kalimat awal tulisan ini, semestinya semua pengguna jalan punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak memandang status sosial, ekonomi, hukum, bahkan politik. Ketika seseorang melanggar semestinya dikenai sanksi yang sama sesuai dengan peraturan yang berlaku. Permintaan keistimewaan semestinya tak ada tempat. Namun, bagaimana faktanya? (edo rusyanto)

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. Bang Uddin permalink
    10 Juli 2015 00:20

    Maaf gan
    apakah ad link buat share FB

  2. 10 Juli 2015 04:06

    Sudah semestinya
    http://motomazine.com/2015/07/10/rupanya-suppo-masih-belum-terima-dan-sebut-rossi-adalah-pebalap-yang-licik/

  3. Indon permalink
    18 Juli 2015 06:37

    Mau gimana lagi beginilah risiko hidup di negara dunia ketiga yg terbelakang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: